- Gubernur Riau nonaktif, Abdul Wahid, menyatakan di Pengadilan Tipikor Pekanbaru bahwa ia awalnya tidak berniat maju Pilkada 2024.
- Permintaan tokoh penting seperti Ustaz Abdul Somad dan dorongan kondisi politik akhirnya meyakinkan Wahid untuk mencalonkan diri.
- Wahid menegaskan tidak mengeluarkan biaya untuk dukungan partai dan berkomitmen menetapkan SF Hariyanto sebagai wakilnya melalui dukungan PDIP.
SuaraRiau.id - Sejumlah pengakuan mengejutkan diungkap Gubernur Riau nonaktif, Abdul Wahid, saat menjalani sidang lanjutan kasus dugaan korupsi di Pengadilan Tipikor Pekanbaru beberapa waktu lalu.
Di hadapan majelis hakim, Wahid yang diperiksa sebagai terdakwa menegaskan bahwa dirinya sejak awal tidak pernah memiliki ambisi untuk maju sebagai gubernur dalam Pilkada Riau 2024.
Dalam persidangan yang dipimpin hakim Delta Tamtama, Wahid justru mengungkap bahwa ia sempat mendorong SF Hariyanto untuk maju sebagai calon gubernur.
Salah satu alasannya karena SF pernah menjabat sebagai Pj Gubernur Riau.
"Saya tidak pernah punya niat jadi gubernur. Bahkan saya yang meminta Pak SF untuk maju," ungkap Wahid di ruang sidang.
Namun, dinamika politik berubah kata Wahid.
Berdasarkan hasil survei saat itu, elektabilitas SF Hariyanto disebut hanya berada di kisaran 4 persen, sehingga dinilai sulit bersaing, termasuk dengan petahana Syamsuar.
Kondisi itu membuat SF Hariyanto justru meminta Wahid untuk maju sebagai calon gubernur.
Wahid mengaku sempat menolak. Ia menegaskan tidak ingin mengejar jabatan, apalagi jika harus mengorbankan hubungan pertemanan.
"Saya lebih memilih menjaga pertemanan daripada mengejar jabatan," katanya.
Keputusan Abdul Wahid akhirnya berubah setelah ia didatangi sejumlah tokoh penting Riau yang memintanya maju demi memperbaiki kondisi daerah.
Di antaranya mantan Gubernur Riau Rusli Zainal, mantan Bupati Siak Arwin AS bahkan ulama kondang Ustaz Abdul Somad (UAS).
Awalnya, Wahid tetap ragu dan memilih melakukan istikharah. Bahkan, ia mengaku istrinya termasuk pihak yang paling tidak setuju dirinya maju dalam kontestasi politik tersebut.
Namun, karena merasa segan atas permintaan dan janji dukungan penuh Abdul Somad, ia akhirnya menerima pencalonan itu dengan berat hati.
"Saya segan sama UAS. Beliau yang meminta saya ikut memperbaiki Riau," tuturnya.