- Kebijakan badan ekspor terpusat komoditas strategis ternyata menuai pro dan kontra.
- Sentralisasi ekspor ini membuat penurunan harga TBS sawit hingga level Rp1.500 per kg.
- POPSI mengusulkan agar rencana itu dibatalkan demi menyelamatkan jutaan petani sawit.
SuaraRiau.id - Langkah membuat badan ekspor terpusat Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) terhadap komoditas strategis ternyata menuai pro dan kontra.
Kebijakan tersebut ternyata membuat terjadi penurunan harga tandan buah segar (TBS) sawit di sejumlah daerah sentra produksi hingga menyentuh level Rp1.500 per kilogram.
Ketua Umum Perhimpunan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) Mansuetus Darto menilai peran DSI sebaiknya difokuskan pada pencatatan, dokumentasi, monitoring, transparansi data ekspor, hingga pengawasan administratif.
"Alternatif lainnya, dia mengusulkan agar rencana sentralisasi ekspor sawit dibatalkan demi menyelamatkan jutaan petani sawit di daerah," katanya dikutip dari Antara, Senin (25/6/2026).
Mansuetus menilai pemerintah harus memberikan kejelasan arah kebijakan agar tidak memicu kepanikan pasar, spekulasi, dan penurunan aktivitas perdagangan yang akhirnya langsung menekan harga CPO dan harga TBS petani.
"Yang paling dirugikan bukan pelaku under invoicing, melainkan petani sawit yang harga jualnya tergerus jauh ke bawah akibat pasar yang tidak stabil," ujarnya.
"Padahal industri sawit menyangkut kehidupan sekitar 17 juta orang, mulai dari petani, buruh, pekerja transportasi, UMKM, hingga masyarakat di daerah sentra sawit," sambung Mansuetus.
Sementara itu, berdasarkan data Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), harga TBS di Kalimantan Barat TBS turun sekitar Rp1.000 hingga Rp1.500 per kg.
Begitu juga di Mamuju, Sulawesi Barat, harga TBS yang sebelumnya berada di kisaran Rp2.800 per kg kini anjlok menjadi sekitar Rp1.000 per kg. Selain itu di Labuhanbatu, Sumatera Utara, harga TBS turun hingga Rp1.500 per kg.
Ketua SPKS Sabarudin meminta pemerintah segera turun tangan untuk merespons penurunan harga dan menstabilkan pasar karena petani terus mengalami kerugian yang besar.
Menurut Sabarudin, kebijakan ekspor satu pintu berpotensi membuka ruang terjadinya monopsoni yang dapat menekan harga TBS di tingkat petani.
Dampaknya dinilai tidak hanya menggerus pendapatan petani, tetapi juga mengancam keberlanjutan produktivitas kebun rakyat.
Ia menilai, jika kondisi ini berlangsung lama, produktivitas sawit rakyat diperkirakan akan menurun dan berdampak pada pasokan sawit nasional.
"Petani trauma dengan kejadian tahun 2015 saat harga TBS jatuh di bawah Rp1.000 per kilogram. Waktu itu banyak petani sampai menebang sawit dan mengganti lahannya ke komoditas lain karena sudah tidak mampu bertahan," ujar Sabarudin.
Dia juga menilai jika produktivitas kebun rakyat turun akibat minim pemupukan dan banyak petani meninggalkan sawit, maka pasokan bahan baku sawit nasional dikhawatirkan terganggu.