- BMKG mengingatkan ancaman karhutla yang mencapai 80 persen.
- Fenomena El Nino meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla.
- Sementara Karhutla Riau berpotensi meningkat pada Juni 2026.
SuaraRiau.id - BMKG menyebut kondisi iklim global berpotensi berkembang menuju fenomena El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua 2026 dengan peluang sekitar 50-80 persen.
Fenomena tersebut menjadikan meningkatkan risiko kekeringan dan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan bahwa saat ini kondisi El Nino Southern Oscillation (ENSO) masih berada pada fase netral, namun indikasi penguatan menuju El Nino perlu diwaspadai karena dapat memperparah musim kemarau.
"Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis, namun jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering," kata Faisal dikutip dari Antara, Kamis (9/4/2026).
BMKG menilai sebagaimana hasil kajian ahli potensi musim kemarau yang datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang dan secara umum kondisi iklim di 2026 diperkirakan lebih kering dibandingkan normal.
Adapun ENSO merupakan fenomena iklim global yang ditandai oleh perubahan suhu permukaan laut dan tekanan udara di Samudra Pasifik tropis, yang terdiri dari tiga fase utama yakni El Nino (pemanasan), La Nina (pendinginan), dan netral.
Perubahan itu memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia, di mana El Nino umumnya menyebabkan berkurangnya curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan.
Sejalan dengan kondisi tersebut, ia menjelaskan bahwa BMKG mencatat jumlah titik panas atau hotspot di Indonesia hingga awal April 2026 telah mencapai 1.601 titik, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Faisal merinci bahwa potensi karhutla diperkirakan mulai meningkat di wilayah Riau pada Juni, kemudian meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan, serta berlanjut ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada periode Juli hingga Agustus.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG terus memperkuat pendekatan preventif melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan metode pembasahan lahan atau rewetting, khususnya di wilayah rawan gambut.
"Ketika tinggi muka air tanah di lahan gambut mulai menurun, BMKG segera melakukan modifikasi cuaca untuk menjaga kelembapan tanah agar tidak mudah terbakar," kata Faisal.
Dia mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor, baik pemerintah daerah maupun masyarakat, guna mengantisipasi peningkatan risiko karhutla seiring perkembangan kondisi iklim tersebut.