Kisah Orang Sakai Lulusan S2 Jerman, Hapus Stigma Terasing dan Tertinggal

Yang paling menonjol, adalah Mohamad Agar Kalipke, tokoh Sakai yang mengenyam bangku pendidikan hingga ke Jerman.

Eko Faizin
Senin, 11 Oktober 2021 | 12:06 WIB
Kisah Orang Sakai Lulusan S2 Jerman, Hapus Stigma Terasing dan Tertinggal
Mohamad Agar Kalipke saat menunjukan karya berupa kamus dan pantun yang ditulisnya. [Suara.com/Panji Ahmad Syuhada]

Pertemuannya dengan orang kulit putih ini pun ternyata juga punya kisah yang panjang. Setamat duduk di bangku Sekolah Pendidikan Terasing (SPT) setingkat SD di wilayah Muara Basung, kabupaten Bengkalis, pria kelahiran 19 Juli 1961 ini bertekad melanjutkan studi SMP dan SMA di Kota Pekanbaru.

Pimpinan kantor Departemen Sosial masa itu, H Abdul Karim Said yang memintanya untuk lanjut bersekolah. Dia pun bersemangat dan langsung dibawa ke kota Pekanbaru untuk dapat pendidikan lanjutan.

"Saya diundang oleh kepala kantor Departemen Sosial, H Abdul Karim Said namanya. Karena di wilayah kami di Duri dulu SMP langka, maka saya masuk SMP-nya di Pekanbaru," kata Agar, mengawali perbincangan dengan SuaraRiau.id, belum lama ini.

Cendikiawan Sakai, Mohamad Agar Kalipke saat menunjukan salah satu pohon hutan yang ditanami di pekarangan rumahnya. [Suara.com/Panji Ahmad Syuhada]
Cendikiawan Sakai, Mohamad Agar Kalipke saat menunjukan salah satu pohon hutan yang ditanami di pekarangan rumahnya. [Suara.com/Panji Ahmad Syuhada]

Tiga tahun berselang, memasuki kelas 3 SMP pada tahun 1979, Agar kaget, sebab di ibu kota Provinsi Riau itu, ia tiba-tiba ditemui oleh orang bule yang merupakan seorang Ilmuwan asal Jerman tadi. Kedatangannya bukan tanpa alasan, Hans rupanya tertarik dengan sosok dan potensinya.

Hans Kalipke menemui Agar ternyata juga lewat rekomendasi dari guru SD-nya bernama Sutarmo saat di Muara Basung, Kabupaten Bengkalis.

"Pak Hans Kalipke itu lebih dulu jumpa dengan Pak Sutarmo guru saya. Almarhum (Sutarmo) mengatakan bawa ia punya anak didik, namanya Agar, alamat di Jalan Diponegoro Pekanbaru. Jadi Pak Sutarmo itu yang mengirim Pak Hans Kalipke ke saya," tuturnya mengenang.

Tujuannya, saat itu Hans berniat ingin dibantu dan leluasa dalam menerjemahkan bahasa Sakai di Riau. Tentu, ia butuh seorang translator untuk menerjemahkan penyampaian orang Sakai yang ditemuinya di lapangan.

Dalam kisah hidup tokoh sakai ini, peran Sutarmo juga sangat berharga baginya. Agar mengingat, sosok Sutarmo merupakan guru sekolah yang mempunyai dedikasi tinggi, dia merupakan masyarakat suku Jawa. Namun demikian, dalam benak Agar, kecintaan sang guru itu terhadap budaya dan sosial Sakai melebihi orang Sakai itu sendiri.

"Beliau itu (Sutarmo) lebih Sakai daripada orang Sakai," ujarnya.

Lantas, pertemuannya dengan Hans Kalipke tersebut pun berlanjut, kisah panjang perjalanan Agar Kalipke bisa sampai ke Jerman itu dimulai sejak masa itu. Kurang lebih dua tahun berselang, Hans dengan Agar akrab dan menjalin kerjasama tak terikat.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini