facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Pekanbaru Manfaatkan Limbah Minyak Jelantah jadi Bahan Biodesel

Eko Faizin Minggu, 14 Februari 2021 | 08:35 WIB

Pekanbaru Manfaatkan Limbah Minyak Jelantah jadi Bahan Biodesel
Minyak jelantah atau minyak goreng bekas yang bisa diolah menjadi bahan baku biodiesel. [Antara/Frislidia]

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Pekanbaru mengumpulkan minyak jelantah tersebut dari warga yang menjual ke bank sampah.

"Minyak jelantah ini akan diproses lagi dan bisa diekspor ke luar negeri untuk dijadikan biodiesel," kata Ryan.

Bagi yang ingin menabung minyak jelantah ke Bank Jelantah dapat melalui narahubung 082298354357 atau akun Instagram @bankjelantah.pekanbaru.

Sebelumnya koordinator kelompok mahasiswa UII Kharis Pratama di Yogyakarta, mencari metode yang tepat untuk memproses minyak jelantah menjadi biodisel. Hal ini memang tidak mudah karena dengan metode yang biasa kendalanya biodiesel masih memiliki kadar air yang tinggi sehingga kurang berkualitas.

"Metode yang tepat yakni dengan memanfaatkan reaksi transesterifikasi untuk mengkonversi minyak jelantah, dan proses konversi dilakukan dengan cara memberikan aliran listrik (elektrolisis) ke dalam larutan minyak jelantah dengan variasi waktu tertentu. Berikutnya elektroda atau batang logam yang digunakan untuk mengaliri listrik telah dilumuri dengan larutan khusus yang disebut kitosan gel," katanya.

Reaksi transesterifikasi selama elektrolisis mengubah minyak jelantah ke dalam dua lapisan, yang berwarna coklat merupakan lapisan gliserol, sedangkan lapisan atas yang berwarna kuning keruh merupakan lapisan biodiesel," katanya.

Tahap akhir dari proses itu, katanya adalah mencuci lapisan biodiesel dari residu hingga menghasilkan biodiesel murni yang siap pakai.

Berdasarkan data, Indonesia termasuk negara yang konsumsi minyak gorengnya tinggi karena hampir semua jenis makanan diproses dengan memakai minyak goreng.

Banyak minyak jelantah sisa produksi yang dapat dimanfaatkan untuk membuat biodiesel murni.

Sementara itu data menunjukkan rata-rata konsumsi minyak goreng sawit di Indonesia setiap tahun mencapai 5,5 juta ton atau 24 persen dari total produksi minyak goreng sawit per tahun sebesar 23 juta ton.

Sedangkan minyak jelantah adalah minyak sisa-sisa dari penggorengan. Dilihat dari komposisi kimia, minyak jelantah mengandung senyawa-senyawa bersifat karsinogenik, yang terjadi selama proses penggorengan.

Komentar

Berita Terkait