- Kota Pekanbaru diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang terpantau di Pelalawan pada Minggu pagi, 16 Agustus 2026.
- Angin dari selatan membawa asap dari Pelalawan dan tertahan di permukaan bumi akibat banyaknya awan menurut BMKG Pekanbaru.
- Kondisi partikulat udara Pekanbaru menunjukkan status sedang dan kekaburan udara diprakirakan berkurang seiring berkurangnya tutupan awan.
SuaraRiau.id - Kabut asap menyelimuti Kota Pekanbaru pada Minggu (16/8/2026) pagi. Kondisi tersebut diduga akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi beberapa waktu belakangan ini.
Berdasarkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru pada pukul 16.00 WIB, Sabtu (15/8/2026), asap di wilayah Riau terpantau ada di wilayah Pelalawan.
"Dan pada pukul 23.00 WIB, terpantau titik panas dengan confidence tinggi di wilayah Pelalawan," jelas prakirawan BMKG Pekanbaru, Mari Frystine, Minggu (16/8/2026).
Dia menjelaskan dari pengamatan di Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II, angin di wilayah Pekanbaru pada pagi hari ini cenderung berasal dari arah selatan.
Hal tersebut menyebabkan asap dari wilayah Pelalawan yang berada di arah selatan dapat terbawa oleh angin menuju wilayah Pekanbaru pada pagi hari ini.
"Kondisi partikulat udara di Pekanbaru hari ini juga menunjukkan status sedang," terang Mari.
Lebih lanjut, BMKG menyampaikan cuaca yang kabur di wilayah Pekanbaru pada pagi hari ini juga didukung oleh kondisi awan yang banyak.
"Sehingga udara kabur tertahan di permukaan bumi dan tidak bisa terlepas ke atmosfer atas," ungkap dia.
BMKG menerangkan bahwa seiring tutupan awan yang berkurang, maka diprakirakan kekaburan udara akan berkurang.
Diketahui, berdasarkan citra satelit asap terdeteksi di Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Sementara sebaran asap di provinsi-provinsi tersebut bergerak ke arah Barat Laut-Laut Timur. Arah angin di Indonesia pada umumnya bertiup dari Tenggara ke Barat Laut-Utara.