Kisah Kelompok Tani Suku Sakai Bangkit dan Berdaya di Tanah Rawan Bencana

Kisah Kelompok Pertanian Terpadu Masyarakat Sakai Pematang Pudu (KPTMS-PP) bangkit dari keterpurukan di lahan rawan bencana.

Chandra Iswinarno
Sabtu, 30 Oktober 2021 | 23:46 WIB
Kisah Kelompok Tani Suku Sakai Bangkit dan Berdaya di Tanah Rawan Bencana
Sejumlah warga masyarakat adat Sakai yang tergabung dalam Kelompok Pertanian Terpadu Masyarakat Sakai Pematang Pudu (KPTMS-PP) memperbaiki kolam ikan yang mereka pelihara. [Suara.com/Panji Ahmad]

SuaraRiau.id - Sebidang lahan pertanian dan perikanan yang dikelola bersama kelompok tani Sakai terpadu harus menelan pilu. Kolam-kolam jebol, tanaman rusak, hingga gagal panen. Berkat modal gotong royong dan ketekunan, kelompok binaan Pertamina Hulu Rokan bangkit dengan penuh keyakinan.

MUS MULYADI kelimpungan. Pertengahan 2017, ia menyaksikan langsung lahan pertanian dan perikanan yang jadi sumber penghasilan masyarakat suku Sakai luluh lantak diterpa bencana. Kolam-kolam ikan jebol, fasilitas keramba rusak, pondok istirahat di tengah kolam juga hanyut tergerus arus.

Padahal, ada sekitar 60 ribu ekor ikan yang siap dipanen. Tersebab bencana alam nyaris membuat asa itu hampir sirna. Musibah ini imbas pembangunan infrastruktur jalan raya yang berdampingan dengan lahan pertanian 12 hektare mereka. Tanggul yang dibuat sedemikian rupa, pecah diterpa musibah.

Puluhan masyarakat adat Sakai yang menggantung asa dari hasil jerih payah tersebut pun diterpa dilema. Namun Mus Mulyadi, pria 45 tahun ini terus menyemangati, dia tak patah arang meskipun suasana hati gundah gulana.

Baca Juga:Kisah Orang Sakai Lulusan S2 Jerman, Hapus Stigma Terasing dan Tertinggal

Dengan sigapnya, Mus segera mengerahkan segala kemampuan untuk berbenah. Mula-mula, warga yang tergabung di Kelompok Pertanian Terpadu Masyarakat Sakai Pematang Pudu (KPTMS-PP) dikumpulkan, mereka duduk bersila, berdiskusi, hingga mencari solusi.

"Situasinya saat itu sangat kacau, kolam-kolam pada banjir dan satu kolam khusus ikan lele pecah, padahal total ikan yang mau dipanen ada 60 ribu ekor. Waktu itu tanggul kolamnya rendah dan kondisi cuaca hujan," kata Mus Mulyadi mengawali perbincangannya dengan Suara.com, Selasa (26/10/2021).

Dalam pergulatan ini, Mus Mulyadi adalah tokoh kunci. Kelompok tani terpadu tersebut berfokus pada peningkatan taraf hidup masyarakat asli Riau lewat bidang pertanian, peternakan dan perikanan.

Memang, diakui Mus, butuh waktu dan tenaga yang tidak sedikit untuk bangkit. Mereka yang masih punya semangat itu pun sepakat untuk gotong royong di tanah rawan bencana. Kolam-kolam yang jebol dan ladang yang rusak mulai dibenahi.

Sumber dana mereka kala itu, yaitu menggunakan uang kas kelompok dan hasil ganti rugi yang tak mencukupi dari proyek pengerjaan jalan lingkar barat Duri tersebut.

Baca Juga:Innalillahi, Tokoh Sakai Riau Mohammad Yatim Meninggal Dunia

"Pembenahannya kami dengan gotong royong. Dana uang kas yang tersisa dan ganti rugi itu kami manfaatkan," ujarnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini