Kisah Lucky, Warga Bengkalis Jelajahi Nusantara Andalkan Peta Kertas

Selama itu pula, Lucky yang pada saat itu masih berstatus lajang dengan modal nekat menyusuri negeri dengan membawa peta manual kertas.

Eko Faizin
Senin, 18 Januari 2021 | 14:30 WIB
Kisah Lucky, Warga Bengkalis Jelajahi Nusantara Andalkan Peta Kertas
Lucky saat menunjukan sertifikat yang menerangkan perjalanan awalnya dari Sabang, Aceh pada 13 Juni 2007. [Suara.com/Panji Ahmad Syuhada]

Namun tak sampai selesai S1, Lucky memutuskan untuk mangkat dengan motivasi yang kuat. Begitupun pujaan hati, mesti ditinggal sementara waktu menjelajahi negeri.

Belum genap 6 tahun, Lucky sempat memutuskan dua hari kembali ke Riau untuk menikahi sang pujaan hati, Riyan Yulmita. Bersamanya, kini lucky telah dikaruniai tiga orang anak.

Jalan asmaranya rupanya tak semulus jalur daratan sumatera, banyak lika-liku dilaluinya untuk meyakini sang mertua. Saat itu, lucky bercerita bahwa berupaya meyakini mertua agar yakin melepaskan anak perempuannya hidup bersama. Dia mengenal sang isteri sudah cukup lama, hingga pada akhirnya 2011 menjadi waktu yang dirasa pas untuk mengucapkan janji suci dihadapan para wali.

"Aku nikah 2 Agustus 2011 di Taluk Kuantan, khawatir juga kalau lama-lama. Jadi 2 hari saya balik ke Riau, setelah itu berangkat lagi. Motor kutinggal dan kembali naik pesawat," ujar Lucky.

Tak lama berselang, perjalanannya sampai ke daerah Bali. Dirinya memboyong istri untuk menikmati masa pengantin baru di sana. Momen-momen itu menjadi kesan tersendiri baginya meskipun kehidupan dan ekonominya belum sebaik sekarang.

"Bulan madu di perjalanan juga," ujarnya.

Kemudian selepas meninggalkan Bali, lucky menyarankan isterinya untuk kembali ke Bumi Lancang Kuning Riau. Kemudian, berselang waktu yang panjang, dirinya kembali mengajak isterinya ke Yogyakarta.

"Banyak juga kenangan indah bersama isteri selama penjelajahan itu," katanya.

Motor Pemberian Bule
Sebelum tinggal di Duri, Kabupaten Bengkalis, Lucky adalah warga Makassar. Lucky yang muda dulu punya angan-angan untuk merantau ke negeri yang dia sendiripun tak tahu harus ke mana.

Sampai setibanya saat usianya beranjak 20 tahun, dia memutuskan naik ke kapal Pelni dari perairan Makassar. Saat itu dirinya bingung ke mana harus berlabuh, hingga akhirnya kapal tersebut bersandar terakhir di pelabuhan Dumai, dia pun turun dan memulai takdir baru di negeri orang.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini