- Pemkab Siak menghitung lagi anggaran Beasiswa PKH yang sempat akan disetop.
- Penghitungan beasiswa PKH tersebut dilakukan lantaran sempitnya ruang fiskal.
- Cerita sedih diungkapkan mahasiswa penerima manfaat jika beasiswa dibatalkan.
"Beasiswa PKH sangat bearti bagi kami yang orang tuanya benar benar tidak mampu. Sehingga sangat terasa bermanfaat sekali uang yang kami terima untuk biaya sekolah dan biaya keseharian kami di sini," kata Rahmad kepada Suara.com.
Rahmad bercerita, hidup sebatang kara di perantauan lakukannya karena benar-benar ingin menjadi seorang sarjana. Sebagai anak pertama, ia sangat ingin membanggakan orangtua yang hanya seorang buruh angkut.
"Bapak bekerja buruh angkut, ibu di rumah mengurus rumah. Tekad saya satu, saya selesai tepat waktu dengan gelar sarjana," sebutnya.
Ditambahkan Rahmad, ia kos sendiri, dengan biaya Rp600.000 per bulan. Untuk makan, kadang masak sendiri, jika kuliah padat membeli nasi bungkus.
Senin hingga jumat, dihabiskan waktu untuk kuliah, sementara Sabtu dan Minggu kadang mencari tambahan uang agar bisa menambah untuk harian.
"Orangtua buruh, tidak mungkin lagi diberatkan," tambahnya.
Ia sempat bertanya tanya, terkait pemotongan biaya hidup bagi penerima beasiswa PKH.
Dulu, lanjut Rahmad, zaman Bupati Siak Alfedri, kami setiap bulan mendapatkan uang Rp3 jutaan dan tak pernah menunggak.
"Sekarang kami dapat Rp1,9 juta. Kadang dikasi dua bulan sekali. Malahan sekarang sudah jalan 4 bulan gak dicairkan, katanya karena efesiensi," sebutnya.
Rahmad berharap, semoga ke depan uang saku bagi penerima beasiswa PKH bisa tepat waktu. Hal itu dikarenakan, kebutuhan kos, makan harian, dan tugas tugas kuliah tak dapat ditunda.
"Kami hampir sempat diusir pemilik kos karena nunggak, tapi mau cemana lagi, terpaksa pinjam sana sini untuk bertahan," pintanya.
Kontributor : Alfat Handri
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Jadi Korban Teman Sendiri, 2 Warga Pekanbaru Diteror Tagihan Pinjol Puluhan Juta
-
Ketua Ormas PP Siak Jadi Tersangka Kecelakaan Maut, Polisi Terbitkan Surat Penahanan
-
Pemerintah Didesak Perjuangkan Hak Kelola Warga atas Eks Konsesi SRL di Pulau Rangsang
-
Syamsuar Berduka atas Kepergian Arwin AS: Dia Guru dan Mentor Terbaik
-
Operasi Lancang Kuning Belum Berakhir, Kecelakaan Renggut Nyawa Pelajar di Siak