Eko Faizin
Rabu, 16 September 2026 | 08:06 WIB
Ilustrasi - Foto udara asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). [ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/YU]
Baca 10 detik
  • BMKG Pekanbaru menyatakan kabut asap di Riau merupakan kiriman dari kebakaran lahan selatan Sumatera pada Selasa, 15 September 2026.
  • Sumatera Selatan mencatat 2.878 dari total 4.127 titik panas di Pulau Sumatera yang memicu peningkatan konsentrasi asap.
  • BPBD Riau mengerahkan satgas gabungan untuk melakukan pemadaman darat dan udara guna mengatasi kebakaran lokal.

SuaraRiau.id - BMKG Pekanbaru mendeteksi pergerakan kabut asap yang memperburuk kualitas udara di Provinsi Riau merupakan kiriman dari dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di selatan Sumatera.

Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru Warjono mengatakan fenomena tersebut terjadi akibat dorongan angin dari arah tenggara dan barat daya.

"Berdasarkan pola angin dan citra sebaran asap yang kami pantau, terdapat potensi kiriman asap dari wilayah di sebelah selatan Riau. Karena asap bergerak mengikuti arah angin, kondisi yang terpantau di Riau tidak hanya dipengaruhi sumber yang berada di dalam wilayah Riau," katanya, Selasa (15/9/2026).

Warjono mengungkapkan, kondisi ini menyebabkan konsentrasi asap di atmosfer Riau meningkat meski sebagian titik api lokal telah terkendali.

Hal tersebut juga berdasarkan pantauan titik panas sebanyak 4.127 tersebar di Pulau Sumatera dengan jumlah terbanyak berada di Sumatera Selatan dengan 2.878 titik.

Sementara itu untuk wilayah Riau terdeteksi 29 titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang.

Sebaran titik panas di Riau mendominasi wilayah Kabupaten Indragiri Hulu sebanyak 19 titik dan Kuantan Singingi (Kuansing) sebanyak empat titik.

Wilayah Pelalawan mencatatkan tiga titik panas, sedangkan Dumai, Rokan Hilir, dan Indragiri Hilir masing-masing terdeteksi satu titik.

Sementara itu, BPBD Riau menegaskan bahwa penanganan karhutla di tingkat lokal tetap menjadi prioritas utama.

Seluruh personel Satgas Karhutla dikerahkan secara konsisten untuk menyisir dan memadamkan setiap titik api yang muncul.

"Kami tidak menutup mata bahwa masih terdapat karhutla di Riau. Setiap titik api tetap menjadi tanggung jawab kita untuk ditangani. Namun, penjelasan BMKG juga memberikan gambaran bahwa kondisi kabut asap saat ini dipengaruhi dinamika atmosfer dan pergerakan asap lintas wilayah," kata Kepala Pelaksana BPBD Riau, Edy Afrizal.

Upaya pemadaman darat menurut dia juga dilakukan secara terpadu oleh personel gabungan BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, serta Masyarakat Peduli Api.

Satgas Karhutla Riau juga memperkuat penanganan lewat udara menggunakan helikopter water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca.

"Tidak perlu saling menyalahkan dari mana asap berasal. Fokus kita adalah memastikan setiap kebakaran di Riau ditangani, mencegah munculnya titik api baru dan melindungi masyarakat dari dampak asap. Karhutla adalah persoalan bersama karena asap tidak mengenal batas wilayah," sebut Edy. (Antara)

Load More