- Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-35 di Jombang, Jawa Timur.
- Ketua PWNU Riau menyatakan Gus Kikin harus melakukan konsolidasi internal serta merukunkan kembali kalangan Nahdliyin.
- Gus Kikin juga didorong untuk memperkuat kemandirian ekonomi organisasi melalui pembentukan bank dan maskapai penerbangan.
SuaraRiau.id - KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Muktamar ke-35 NU, Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur.
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Riau KH R Abdul Khalim Mahali menyebut Gus Kikin menghadapi tugas yang sangat berat setelah terpilih sebagai Ketua Umum PBNU.
"Tugas KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai nahkoda baru PBNU sangat berat. Di antaranya adalah konsolidasi internal organisasi serta menghadirkan NU yang adem dan rukun," ujar Kiai Mahali.
Pernyataan tersebut disampaikan Kiai Mahali seusai penutupan Muktamar NU yang turut dihadiri Presiden Prabowo Subianto bersama sejumlah Menteri Kabinet Merah Putih.
Mahali menyampaikan, salah satu pekerjaan utama Gus Kikin adalah melakukan konsolidasi internal organisasi sekaligus mengembalikan suasana NU agar lebih teduh, rukun dan solid setelah dinamika internal yang terjadi sebelumnya.
Ia menilai dinamika di tubuh PBNU sejak November 2025 hingga keputusan jajaran Syuriah PBNU memberhentikan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya pada 26 November 2025 telah menimbulkan perhatian luas di tengah masyarakat.
Kiai Mahali menyebut persoalan tersebut merupakan dinamika yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah PBNU.
Di sisi lain, sikap Gus Yahya yang melakukan perlawanan terhadap keputusan Syuriah PBNU juga dinilai menjadi bagian dari dinamika yang cukup serius.
"Terlepas Syuriah PBNU benar dan Gus Yahya punya hak membela diri, dinamika di tubuh PBNU telah menimbulkan eskalasi dan perpecahan serius di kalangan Nahdliyin. Inilah yang harus dirukunkan secara masif oleh Ketum PBNU baru," tegasnya.
Selain konsolidasi internal, Kiai Mahali menyebut Gus Kikin juga menghadapi tantangan besar dalam memperkuat kemandirian ekonomi organisasi.
Ia mendorong NU untuk memiliki lembaga perbankan, maskapai penerbangan serta membentuk satuan tugas yang khusus menangani inventarisasi dan pemulihan aset NU di seluruh Indonesia.
Menurutnya, secara potensi jumlah warga NU yang besar dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola secara profesional.
Mahali mencontohkan, jika terdapat 125 juta warga NU dan masing-masing memberikan iuran Rp100 ribu, maka dana yang terkumpul mencapai Rp12,5 triliun.
"Jika jumlah warga NU adalah 125 juta secara statistik dan iuran Rp100 ribu per orang, maka terkumpul dana Rp12,5 triliun. Sangat cukup untuk mendirikan bank dan NU airline. Inilah di antara tugas berat Ketum PBNU yang baru," paparnya.
PWNU Riau, kata Mahali, juga berharap Gus Kikin menerapkan pola kepemimpinan yang inklusif dengan merangkul seluruh elemen Nahdliyin serta menghindari praktik eksklusivisme dalam menjalankan roda organisasi.