Tepian Batang Mandau, Wisata Alam yang Bangkitkan Memori Sejarah Migas Riau

Simbol itu dibangun sebagai tanda kenang bahwa hampir satu abad yang lalu, pendaratan kapal pembawa sejarah panjang perminyakan Riau dimulai dari sini.

Eko Faizin
Kamis, 04 Agustus 2022 | 20:43 WIB
Tepian Batang Mandau, Wisata Alam yang Bangkitkan Memori Sejarah Migas Riau
Panorama sunset di Tepian Batang Mandau Bengkalis yang dulunya merupakan pendaratan pertama kapal ekplorasi minyak bumi. [Suara.com/Panji Ahmad Syuhada]

"Barang-barang yang dipungut disimpan di Balai sebuah Desa di Pinggiran Sungai Mandau, dari proses waktu Desa tersebut dinamakan Balai Pungut," ulasnya.

Barang-barang tersebut lalu dikirimkan ke kerajaan Siak, atau diperdagangkan ke daerah lain seperti Bengkalis, Pekanbaru, Tapung, Kampar, Minangkabau, dan daerah lain lewat Sungai Mandau yang cukup terkenal di kala itu.

Albohari menyebut, bahwa Sungai Mandau merupakan merupakan salah satu jalur perdagangan yang cukup sibuk di masa kerajaan Siak Sri Inderapura. Apalagi sejak eksplorasi minyak dimulai, sungai ini merupakan urat nadi lalu lintas kapal luar negeri.

Menurut dia, Sungai Mandau di Desa Balai Pungut menyimpan catatan-catatan sejarah yang layak dipromosikan untuk pariwisata. Seperti tugu NPPM tadi.

Kemudian, di Desa Balai Pungut juga terdapat kuburan dengan tulisan kanji Jepang. Menurutnya ini perlu diteliti lebih lanjut, apakah benar kuburan Jepang, atau kuburan tidak dikenal.

"Kalau benar ini kuburan Jepang, ada dua kemungkinan menurut pendapat saya, pertama tentara Jepang yang tewas ketika menghadapi kelompok pemuda Sakai dibawah pimpinan si Kodai. Kemudian orang Jepang yang meninggal ketika bekerja di pengeboran minyak bumi," tuturnya.

Dari tulisan yang tertera di kuburan tertulis wafat 17-7-1943, sayangnya tulisan berikutnya yang mirip tulisan kanji Jepang sudah tidak terbaca lagi, karena digerus oleh waktu.

Saat itu, Jepang masuk ke wilayah Duri (masuk juga wilayah Minas, Pinggir, Mandau, Talang Muandau, Bathin Solapan, dan Dumai) tahun 1943-1944, dengan tujuan ambisius yakni mencari emas yang konon cerita terdapat di Kandis (ternyata tidak terbukti).

Dan memproduksi minyak bumi besar-besaran (rampasan dari perusahaan minyak Belanda dan Amerika) untuk keperluan mesin perangnya.

Dari bukti sejarah itu, Albohari berharap, sejarah yang begitu berharga bagi warga tempatan tersebut, sebaiknya dilestarikan dan diteliti lebih lanjut oleh ahli-ahli sejarah secara ilmiah.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini