Pengamat tata kota dari Universitas Islam Riau, Mardianto Manan mengatakan buruknya pengelolaan kota adalah cerminan buruknya peran wali kota.
Ia juga menyebut di masa kepemimpinan Firdaus-Ayat Cahyadi bahkan mengalami nasib yang makin buruk dalam mengatasi persoalan drainase.
"Sejak 1999 banjir sudah terjadi. Harapan kita (alm) Herman Abdullah menuntaskan, tak tuntas juga. Harapan kita Firdaus, tambah parah. Sekali lagi tambah parah. Karena persoalan drainase tidak dibuat dengan elok," ujar Mardianto Manan.
Masalahnya, setiap kali hujan turun di Kota Pekanbaru, beberapa jam setelah itu bisa dipastikan beberapa jalan di Kota Pekanbaru akan digenangi air. Masalah drainase yang disebut Mardianto Manan seperti tidak ditanggapi serius oleh Wali Kota Pekanbaru. Sehingga ia kadang bosan untuk mengulang solusi dari persoalan banjir ini terus menerus.
"Masalah penataannya yang kurang elok. Kan itu saja. Drainase air tidak tahu mau kemana. Interkoneksi antara satu dan yang lain tidak ada," ujarnya.
Hal itu makin diperparah karena Pekanbaru sendiri tak punya peraturan daerah untuk mengatur soal drainase itu. Meskipun Mardianto Manan sempat mendengar Kota Pekanbaru sudah punya master plan untuk tata kelola drainase, tapi ia menganggap hal itu belum ada.
"Ada yang bilang sudah ada, tapi saya katakan tidak ada. Karena saya lihat itu belum jadi peraturan daerah."
Pada akhir tahun 2020 masalah sampah yang tak tertangani dengan baik akhirnya jadi masalah besar. Waktu itu Pemkot Pekanbaru mengatakan bahwa tender untuk lelang sampah terlambat dibuka sehingga persoalan sampah di Pekanbaru yang selama ini memakai sistem pihak ketiga terbengkalai. Di beberapa titik jalan, sampah-sampah bertumpuk menggunung berminggu-minggu.
"Sampai awal Januari sampah tidak diangkut, ditumpuk dimana-mana. Dan itu menjadi perhatian banyak orang," kata Kunni Masrohanti, pegiat kesenian dan lingkungan yang ikut tergerak dan membuat diskusi soal sampah pada akhir 2021.
Seperti Mardianto Manan yang melihat ketidakbecusan Wali Kota Pekanbaru menata kotanya, Kunni juga melihat efek sampah bagi masyarakat berimbas kepada perilaku manusia.