facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Konsumsi Susu Kental Manis Disebut Ganggu Tumbuh Kembang Anak

Eko Faizin Selasa, 01 Maret 2022 | 18:36 WIB

Konsumsi Susu Kental Manis Disebut Ganggu Tumbuh Kembang Anak
ILUSTRASI susu kental manis atau SKM. [Antara/Shutterstocks/@NewAfrica]

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat, khususnya orang tua untuk mengetahui literasi gizi.

SuaraRiau.id - Konsumsi susu kental manis (SKM) menyebabkan gangguan pada kesehatan anak dan tumbuh kembang anak.

Pernyataan tersebut disampaikan Peneliti Pimpinan Pusat Aisyiah, Tria Astika dalam peluncuran buku Masa Depan Anak Indonesia Terganggu Susu Kental Manis.

“Konsumsi kental manis pada anak dalam jangka panjang tidak hanya menyebabkan kekerdilan, tetapi juga dapat menyebabkan anak mengidap anemia secara kognitif,” ujar Tria seperti dikutip dari Antara, Selasa (1/3/2022).

Dia menjelaskan anak merupakan generasi penerus yang dijaga kesehatannya dan tumbuh kembangnya dengan memberikan asupan gizi yang sesuai dengan usianya.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat, khususnya orang tua untuk mengetahui literasi gizi. Sehingga, orang tua tidak salah memberikan asupan makanan yang baik dan salah dalam pola asuh.

Sementara itu, Ketua Harian Yayasan Abhipraya Insan Cendekia (YAICI) Arif Hidayat mengatakan berdasarkan temuan di lapangan ditemukan pemahaman masyarakat mengenai gizi di Indonesia sangat mengkhawatirkan. Hal itu terlihat dari bagaimana persepsi masyarakat mengenai susu kental manis.

Dari temuan di lima provinsi di Indonesia, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Maluku, dan NTT, didapati angka yang cukup tinggi, yaitu 28,96 persen masyarakat mengatakan bahwa SKM adalah susu pertumbuhan.

“Bahkan, 16,79 persen ibu memberikan kental manis untuk anak setiap hari. Padahal, fakta menyebutkan SKM tidak lah sama dengan susu dan tidak dapat mendukung tumbuh kembang kesehatan anak. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa kandungan gula SKM sangat tinggi, yaitu 51 persen hingga 56 persen dengan kandungan lemak SKM berkisar 43 persen-48 persen, artinya produk SKM ini dapat dikategorikan sebagai bukan susu melainkan pemanis dengan perisa susu,” jelas Arif Hidayat.

Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Chairunnisa mengatakan mengapa masyarakat masih mengonsumsi kental manis, karena kental manis terjangkau dan mudah didapat di pelosok-pelosok dan murah.

“Hal ini ada korelasi dengan penelitian kami. Salah persepsi SKM dikonsumsi oleh masyarakat,” kata Chairunnisa. (Antara)

Komentar

Berita Terkait