Eksistensi Kampung Patin Riau, Produksi Ikan Salai Capai 12 Ton/Hari

Hal ini tentu membuat dirinya bangga, olahan tangan warga Kampung Patin sudah terkenal ke mana-mana.

Eko Faizin
Jum'at, 24 Desember 2021 | 17:36 WIB
Eksistensi Kampung Patin Riau, Produksi Ikan Salai Capai 12 Ton/Hari
Teknologi tepat guna buatan profesor ITB yang digunakan untuk mengecek kadar air di Kampung Patin Riau. [Suara.com/Panji Ahmad Syuhada]

SuaraRiau.id - Kampung Patin dinobatkan jadi sentra pembudidayaan dan pengelolaan ikan patin terbesar di Riau. Sebuah daerah yang dijuluki Kampung Patin ini berada di Desa Koto Masjid, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kampar.

Suara.com berkesempatan mengunjungi langsung sentra produksi dan pembibitan ini. Di lokasi tersebut, terdapat banyak kolam ikan patin. Warga setempat mempunyai motto, satu rumah satu kolam.

Penggerak Kampung Patin, Suhaimi (52) mengatakan, bahwa dalam satu hari, produksi patin asap atau salai dari kampung patin ini bisa mencapai 12 ton. Hasil produksi tersebut dijual ke berbagai daerah, bahkan juga sudah merambah sampai ke mancanegara.

Seorang warga menyusun ikan patin salai di Desa Koto Masjid, Kabupaten Kampar, Riau pada September 2020. (Antara/FB Anggoro)
Seorang warga menyusun ikan patin salai di Desa Koto Masjid, Kabupaten Kampar, Riau pada September 2020. [Antara/FB Anggoro]

"Kita punya pasar olahan ikan, untuk ikan salainya sehari sampai 12 ton, dikirim ke berbagai daerah. Rencana akan kita kirim sampai ke luar negeri, sekarang belum. Tapi saat saya ke Malaka Malaysia waktu itu, patin asap olahan kampung patin malah sudah ada," kata Suhaimi, Kamis (23/12/2021).

Suhaimi bersama warga yang menggeluti usaha ini sudah merencanakan akan mengekspor olahan patin tersebut hingga ke luar negeri, namun rupanya, produknya tersebut sudah lebih dulu merambah ke mancanegara oleh para pedagang luar.

Hal ini tentu membuat dirinya bangga, olahan tangan warga Kampung Patin sudah terkenal ke mana-mana.

Selain ikan asap atau salai, produksi dari kampung patin juga membuat nugget patin, bakso, kerupuk kulit, bakso, pempek patin, abon, dan masih banyak jenis lainnya. Yang mengelola kuliner khas tersebut, adalah warga setempat.

Alumni Fakultas Perikanan Unri tersebut mempunyai asa, warga bisa maju dan berkembang dari hasil di 'rumah sendiri'.

Dari segi pembudidayaan ikan patin, pengelola Graha Fish Pratama tersebut mengakui bahwa kampung patin tersebut memiliki luas 150 hektare. Di setiap rumah warga, terdapat kolam pembudidayaan patin.

"Patin itu komoditi terbaik di sini, banyak keuntungan yang kita dapati dari peluang bisnis ini, saya memulainya sudah sejak 2002. Di sini, tiada rumah tanpa kolam," ungkapnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini