facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Perjuangan Nelayan Danau Zamrud, Jaga Konservasi Alam di Tanah Petro Dollar

Eko Faizin Selasa, 14 Desember 2021 | 15:34 WIB

Perjuangan Nelayan Danau Zamrud, Jaga Konservasi Alam di Tanah Petro Dollar
Nelayan danau Zamrud, Muis (59) saat mengayuh perahu pompong ditemani seekor burung bangau putih yang dinamai Siti.[Suara.com/Panji Ahmad Syuhada]

Selain menangkap ikan, Muis yang sudah 30 tahun jadi nelayan di Danau Zamrud juga berikhtiar membantu menjaga konservasi alam.

SuaraRiau.id - Taman Nasional Zamrud di Negeri Istana menyimpan segudang potensi pariwisata. Hamparan rimba raya mengelilingi perairan gambut. Di biduk danau, terdapat potensi migas yang tak terkira. Kawasan konservasi ini masih menyimpan misteri dan asa besar yang perlu digali. Jutaan barrel minyak bumi terkandung, konservasi alam juga masih terlindung.

MUIS terus mengayuh perahu kayunya saat berada di tepian Danau Zamrud, Siak. Alat transportasi tradisional yang dinamai pompong itulah yang menemani aktivitasnya saban hari.

Di danau perairan gambut tersebut, nelayan 59 tahun ini punya dua tugas utama; menafkahi keluarga dan menjaga konservasi. Sehari-hari, ia bertugas mencari ikan, namun juga ada waktu tertentu untuk melayani wisatawan.

Tugas tambahan ini didapatinya saat kawasan Taman Nasional Zamrud itu didatangi pengunjung, perahu milik Muis tersebut dipakai untuk berlayar.

Biasanya, rutinitas itu dilakoninya saat akhir pekan, dimana para pengunjung akan disuguhkan dengan pemandangan wisata alam danau serta hutan yang masih asri dan terlindung.

Muis bertugas memandu para pendatang untuk mengeksplor keindahan danau yang dalam tahap pengembangan potensi pariwisata ini. Tak terlewatkan, rombongan PWI Riau bersama Balai Besar Konsevasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dan Badan Operasi Bersama (BOB) PT Bumi Siak Pusako-Pertamina Hulu masuk dalam skedul pelayanannya bersama para nelayan lain. Bagi Muis, Danau Zamrud merupakan rumah kedua baginya.

Nelayan danau Zamrud, Muis (59) saat mengayuh perahu pompong ditemani seekor burung bangau putih jinak. [Suara.com/Panji Ahmad Syuhada]
Nelayan danau Zamrud, Muis (59) saat mengayuh perahu pompong ditemani seekor burung bangau putih jinak. [Suara.com/Panji Ahmad Syuhada]

"Sehari hari di Danau Zamrud, inilah rumah kedua kami," kata Muis kepada Suara.com, Sabtu (27/11/2021).

Jika aktivitas pariwisata itu usai, maka ia pun kembali ke tugas utama; mencari suaka. Kehidupan Muis bersama puluhan nelayan lain seratus persen ditopang dari hasil alam di Tasik tersebut.

Jika waktu mencari ikan tiba, perahu ukuran lima kali satu meter itu akan dibawa menyusuri danau, di tepi-tepi, ia berhenti sejenak, lalu mengangkat bubu dan memastikan hasil perangkap yang dipasang tiga hari lalu.

Tak jarang, ikan jenis toman, tapah, baung hingga nila tertawan di perangkap ikan ramah lingkungan. Itu dia buat dengan alat seadanya, mengandalkan jaring, kayu dan tali. Hasil tangkapan tersebut menjadi ladang rupiah bagi dirinya untuk dibawa pulang bersama keluarga.

Lantas, berpindah ke bubu-bubu lainnya, pria tegap bertopi ini mesti menghidupkan mesin pompong tadi. Sebab, jarak tempuh di danau alami seluas puluhan ribu hektare tak akan sanggup ditempuh hanya dengan dikayuh.

Mesin berkekuatan 15 PK pun dihidupkan, di bawah terik matahari, ia masih semangat untuk terus mengais rejeki.

Di sisinya, setia menemani seekor burung bangau putih yang dinamainya Siti. Dari postur unggas ini, diperkirakan berusia tidak lebih tiga tahun. Siti lah yang menemani aktivitas Muis dan para nelayan setiap kali memanen bubu dan memancing ikan di danau Zamrud.

Sebagai imbalan, Siti selalu dijatah ikan segar sebagai santapan. Harmonisasi alam tersebut sangat kental dirasakan para nelayan.

"Namanya Siti, bangau ini jinak dan rutin menemani kami nangkap ikan," tutur Muis.

Dalam mencari nafkah di alam raya, Muis tak seorang diri. Ada beberapa nelayan lain yang senasib sepenanggungan. Mereka masih mengandalkan cara-cara tradisional dalam mengais rejeki, misal, menggunakan bubu, jaring hingga pancing.

Teknik ilegal dalam mencari ikan menjadi suatu yang tabu bagi mereka, lantaran hal itu dapat merusak alam dan konservasi yang terkandung di dalamnya.

"Nelayan sini gak pernah pakai setrum ataupun cara-cara ilegal, jika ada yang begitu kami yang duluan menangkapnya," kata dia.

Warga Sungai Apit, Siak tersebut saban hari bermukim di alam raya. Dia tidak setiap hari pulang ke rumah, lantaran jarak tempuh dari danau ke tempat tinggalnya lumayan jauh, apalagi akses utamanya hanya mengandalkan perahu.

Sekali mendayung nasib, paling cepat pulang ke rumah sebulan sekali. Di kawasan Taman Nasional Zamrud itu, Muis dan rekan-rekannya mendirikan rumah papan sebagai tempat tinggal sementara. Gubuk "derita" di tepian danau zamrud itulah tempat mereka makan, tidur dan berlindung dari ancaman binatang buas.

"Pulang ke rumah itu ya sebulan sekali, di sini kami tinggal," ujarnya dari atas perahu.

Rumah singgah yang dibuat seadanya dengan kayu Mahang beratap Rumbia serta berpadu seng bekas itu masih berdiri kokoh. Namun terlihat kontras dengan rumah yang berada di sebelahnya, ambruk dan nyaris tenggelam.

Selain menangkap ikan, Muis yang sudah 30 tahun jadi nelayan di Danau Zamrud juga berikhtiar membantu menjaga konservasi alam. Hal ini jadi bagian dari asasnya untuk menjaga alam raya tetap lestari.

Peran nelayan selain menangkap ikan
Di danau seluas 31 ribuan hektare itu, tak banyak nelayan yang mengais hasil alam. Mereka cenderung dibatasi hanya dengan dua kelompok, setiap kelompok tersebut rata-rata beranggotakan tak lebih 20 orang.

Ketua kelompok Nelayan Danau Zamrud, Muhammad Nur (36) mengungkapkan, bahwa selain menangkap ikan, mereka juga turut serta menjaga konservasi alam.

Rumah singgah para nelayan danau Zamrud yang berada di tengah-tengah konservasi alam. [Suara.com/Panji Ahmad Syuhada]
Rumah singgah para nelayan danau Zamrud yang berada di tengah-tengah konservasi alam. [Suara.com/Panji Ahmad Syuhada]

Tugas utamanya seperti, jika ada orang luar yang mencuri ikan di danau tersebut dan melakukan aktivitas-aktivitas ilegal, mereka segera menegur, memberi peringatan dan berkoordinasi dengan petugas BBKSDA Riau.

Sejak dulu, mereka sudah menerapkan sistem siaga dalam menjaga Danau Zamrud. Makanya, untuk jumlah nelayan di bentangan alam tersebut sangat dibatasi.

"Nelayan di sini turun temurun, kami generasi ketiga yang mencari ikan di danau zamrud," kata dia.

Dalam menjaga konservasi itu, para nelayan memastikan tidak ada hal-hal yang dapat merusak lingkungan. Mereka juga diberdayakan petugas BBKSDA untuk membantu kinerja.

"Kalau ada hal yang mencurigakan, tindakannya dinasehati, diperingati, beri penjelasan dan laporkan ke BBKSDA Riau. Kalau soal kasus seperti itu masih jarang terjadi, tapi ada," ungkap Nur.

Di ujung danau dekat muara, juga dibangun rumah singgah terapung yang dihibahkan BBKSDA Riau untuk para nelayan. Di kawasan ini, juga terdapat kerambah ikan yang dibudidayakan, salah satunya ikan langka; Arwana dan Belida.

Meski populasinya masih ada, namun ikan-ikan di danau tersebut sudah terbilang langka. Makanya, salah satu program para nelayan yaitu membudidayakan yang tersisa.

"Kalau kawasan ini, kami rasa masih aman dari aktivitas ilegal," tuturnya.

Taman Nasional Zamrud sendiri terdiri dari 2 danau, yaitu danau atas atau biasa disebut danau besar seluas 2,416 hektare dan danau bawah dengan luas 316 hektare. Secara rinci, danau besar memiliki 4 pulau tadi masing-masing; Pulau Besar, Pulau Tengah, Pulau Beruk, dan Pulau Bungsu.

Di sekeliling danau, terhampar luas tanah pusaka hutan rimba yang belum terjamah, luasnya 31.480 heltare. Kawasan ini menjadi habitat satwa-satwa langka dan dilindungi.

Di dasar danau, terkandung minyak bumi yang tak terkira jumlahnya, diperkirakan ada jutaan barel minyak bumi, kawasan ini juga dijuluki tanah Petro Dollar.

Potensi pariwisata Negeri Istana
Pemerintah Kabupaten Siak menargetkan kawasan Taman Nasional Zamrud dapat menjadi magnet wisatawan dari dalam dan luar negeri. Bahkan, stakeholder di negeri berjuluk Istana ini sudah merancang master plan untuk pengembangan potensi yang ada.

Perencanaan itu ditargetkan bisa realisasi dalam lima tahun ke depan. Kawasan konservasi yang berpadu dengan eksplorasi migas ini masih terus dijaga dan lestari.

Kepala Dinas Pariwisata Siak, Fauzi Asni menyebut, bahwa dari total luas 31 ribuan hektare ini, BBKSDA Riau memberikan hak kewenangan jadi sentra wisata seluas 900 hektare, itulah yang akan dimanfaatkan sebagai daya tarik wisatawan.

"Target kita, ada buat restoran terapung, kolam renang terapung, konsepnya pariwisata minat khusus. Pangsa pasar dari dalam dan luar negeri. Inilah rencana Pemkab Siak, membuat wisata khusus di taman nasional Zamrud. Kita juga tak akan merusak atau ekplorasi di darat, tapi cenderung di air. Di darat paling hanya sebatas track joging di hutan," ungkapnya.

Untuk mencapai itu, Pemkab Siak masih melakukan berbagai upaya, salah satunya menyesuaikan dana yang ada.

"Perencanaan 5 tahun ke depan, kita sebenarnya sudah rencanakan kemarin sebelum pandemi Covid-19. Jadi, kita wajib punya mimpi dan rencana," tuturnya optimis.

Untuk akses sendiri, Fauzi menargetkan dua jalur utama bisa dilalui ke lokasi tersebut. Yaitu lewat jalur operasi BOB PT Bumi Siak Pusako-Pertamina Hulu dan dari daerah Sungai Rawa, Siak.

Selaras dengan itu, Asisten III Pemkab Siak, Jamaluddin juga mengamini. Ia berharap potensi pariwisata tersebut dapat menjadi magnet wisatawan untuk datang ke negeri istana.

Dalam kawasan tersebut, ia menyebut, bahwa pemerintah juga turut menyokong keberadaan ekosistem alam, termasuk satwa-satwa di lindungi di dalamnya.

"Di sana masih banyak satwa langka, pada kawasan hutan TN Zamrud merupakan daerah jelajah harimau, gajah, buaya, beruk hingga burung langka," ungkapnya.

Kepada siapapun yang datang ke danau tersebut, ia selalu berpesan untuk selalu menjaga sikap dan berkolaborasi menjaga kawasan agar tetap asri.

Untuk akses sendiri, kawasan Taman Nasional Zamrud dapat ditempuh lebih kurang 3 sampai 4 jam dari kota Pekanbaru. Untuk menuju ke kawasan konservasi tersebut, terdapat akses utama perusahaan migas yang menjurus ke lokasi.

Di negeri Istana Siak, selain Danau Zamrud, juga terdapat ragam potensi pariwisata lain. Ikon Kabupaten ini adalah Istana Siak yang dibangun pada masa Kesultanan Siak, taman hutan raya, monumen hingga makam para sultan.

Kolaborasi jaga keberlangsungan ekosistem
Dalam menjaga kawasan Taman Nasional Zamrud, BBKSDA Riau yang memiliki wewenang penuh terhadap konservasi itu mengharapkan turut sertanya semua pihak untuk menjaga. Mereka menerapkan pola kolaboratif.

Sebab, kawasan TN Zamrud tersebut baru diresmikan pada 2016, sebelumnya statusnya adalah suaka margasatwa. Maka demikian, segala aspek masih memerlukan dukungan.

Kepala Bidang Wilayah 2 BBKSDA Riau, Hartono mengatakan, bahwa saat ini pihaknya juga masih kekurangan SDM dalam mengawasi dan memelihara.

"Luasnya 31 ribuan hektar, dalam pengelolaan masih bawah kendali BBKSDA, walaupun sifatnya taman nasional, tapi belum seperti Taman Nasional Teso Nilo. Mohon doa restu semoga TN Zamrud segera ada kelembagaan, agar pengelolaan juga maksimal," kata Hartono.

Ia menyebut, kawasan konservasi ini memiliki 7 orang petugas yang melakukan pengawasan, mereka juga turut mengawasi wilayah Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil. Sehingga, secara SDM, tentu hal ini masih minim.

Sehingga Hartono bersama para pimpinan lain sepakat menerapkan pola kolaboratif.

"Konservasi itu tak mungkin sendiri, perlu ada campur tangan dan bantuan pihak lain. Sejauh ini, Pemkab Siak luar biasa dalam berkolaborasi," ujarnya.

Menurut Hartono, potensi wisata yang ada di TN Zamrud belum tereksplor secara keseluruhan. Sarana dan prasarana masih perlu dukungan.

Kekinian, penjaga rimba raya ini juga melakukan kerjasama dengan BOB Bumi Siak Pusako-Pertamina Hulu untuk bersikukuh melestarikan alam dan menggali potensi.

Selain itu, terhadap masyarakat nelayan, Balai Besar KSDA juga menjalin kemitraan yang saling menguntungkan.

"Kami sifatnya kolaboratif, dalam satu dua tahun ini sudah memberikan bantuan kelompok tani nelayan TN Zamrud. Kita berikan sarana transportasi bagi nelayan, harapannya dengan kemitraan itu, nelayan kawasan itu di danau besar dan danau bawah TN Zamrud bisa beraktivitas dan membantu dalam pengelolaan kawasan ini," ungkapnya.

Dari segi pariwisata, Hartono mengungkapkan bahwa saat ini sudah sejalan dengan rancangan Pemkab Siak untuk bersama-sama membangun mimpi.

"Harapan kami juga ada investor, ada suatu badan usaha yang kiranya minat membangun dengan pola izin wisata dengan sarana potensi alam. Wilayah ini sudah kita bagi untuk wisata, di sini itu ada zona inti, zona rehabilitasi, dan zona pemanfaatan," tuturnya

Eksplorasi migas tanpa rusak konservasi
Kawasan Taman Nasional Zamrud juga merupakan lokasi eksplorasi migas. Di dasar danau terkandung jutaan barel minyak bumi. Meski sudah dioperasikan BOB Bumi Siak Pusako-Pertamina Hulu, namun hingga saat ini belum ada penambahan sumur minyak, hal ini guna menjaga senyawa alam tetap lestari.

Kawasan Petro Dollar ini diyakini masih mampu memproduksi minyak bumi dalam skala yang besar, namun demikian, perusahaan migas yang mengelola sangat menjunjung tinggi asas kelestarian dan regulasi.

Eksternal Affair Manajer BOB Bumi Siak Pusako-Pertamina Hulu, Nazarudin mengatakan, bahwa pihaknya berkomitmen besar dalam pengelolaan TN Zamrud agar tetap lestari. Ia melihat, dari segi pariwisata ini sangat berpotensi besar, sehingga dunia juga perlu melihat.

"Lapangan Zamrud itu pertama ditemukan dan dikembangkan Caltex tahun 1971. Dan pada saat itu situasinya sudah hutan, kondisi saat itu rimba raya, jauh lebih rindang dari saat ini," katanya.

Saat awal-awal dikembangkan, lapangan minyak yang ditemukan oleh petinggi Caltex Julius Tahija ini masih rimba raya. Seiring semakin banyaknya sumur minyak yang ditemukan di daerah operasi Caltex, peta daerah pun dibuat Caltex bersama Pemerintah, yang pada dekade 1970-an mengoperasikan daerah Coastal Plains Pekanbaru Block (CPP Block).

Pada 1981, Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup Emil Salim pada masa itu bertemu Julius Tahija. Saat itu Julius yang meminta bertemu, ia memaparkan keberadaan sumber minyak di bawah Danau Zamrud yang kaya ekosistem di wilayah Sumatera.

Julius Tahija dengan tegas menyatakan tidak akan merusak danau tersebut dan hutan di sekelilingnya jika nantinya mengeksplorasi sumber minyak di bawah danau. Akhirnya, Caltex menggunakan teknologi bor untuk membuat sumur minyak yang miring (Directional Drilling), tidak tegak lurus dengan permukaan tanah, sehingga tidak merusak danau di atasnya. Biayanya jutaan dollar AS, cukup tinggi pada masa itu.

Nazarudin menyebut, bahkan pemboran pertama saat itu menggunakan Helikopter Rig, saat itu manajemen Caltex adalah orang pertama yang melihat danau pulau besar, lantas Julius mengusulkan ke Emil Salim untuk jadi kawasan konservasi.

"Kegiatan operasi migas dimulai Caltex pada masa itu, dan BOB saat ini. Hari ini produksi migas ada sekitar 4000an barrel oil per day. Produksi di sana masih oke, 194 sumur dari total 400 sumur BOB," ungkapnya.

Dalam menjaga harmonisasi ekspolrasi migas dan alam ini, Nazarudin mengungkapkan bahwa pihaknya punya komitmen kuat melestarikan lingkungan.

"Masuk kawasan itu saja mesti ada surat izin memasuki kawasan konservasi (Simaksi). Jalur satu-satunya lewat gerbang BOB. Soal menjaga konservasi, kami mempunyai perjanjian dengan BBKSDA, kami juga akan menandatangani pengelolaan TN Zamrud secara kolaboratif demi potensi besar untuk kemakmuran rakyat," tuturnya.

Menurut Nazarudin, jauh sebelum ditetapkan kawasan TN Zamrud sebagai suaka margasatwa, sumur-sumur itu sudah digali. Saat ini, ada potensi sebesar 226 juta berrel oil per day yang sebenarnya masih terkandung dari kawasan tersebut.

"Ada potensi sebesar 226 juta BOPD saat ini. Tapi untuk diketahui, saat ini kita menunjung tinggi asas kelestarian dan regulasi. Sumur-sumur (yang ada) itu sudah dibor sebelum ditetapkannya kawasan suaka marga satwa," kata Nazaruddin.

Wilayah Zamrud, ada zona suaka margasatwa dan konservasi danau. Di zona ini, flora dan fauna asli dipertahankan.

Hal ini menjadi komitmen BOB sesuai semangat pioner konservasi penemu Lapangan Zamrud, Julius Tahija yang tinggi terhadap lingkungan hidup dalam operasinya, termasuk dalam penerapan teknologi yang ramah lingkungan.

Kontributor : Panji Ahmad Syuhada

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar

Berita Terkait