Di Riau, Hans Kalipke memiliki misi untuk meneliti seluk-beluk suku Sakai dan suku-suku asli lainnya, utamanya yaitu tentang cara-cara dan pola pemikiran dasar anak sakai, serta cara belajar suku asli ini sendiri.
"Jadi yang beliau dapatkan di suku Sakai yaitu learning by doing, belajar sesuatu sambil melaksanakannya. Misal orang tua membuat anyaman, nah itu anak juga ikut. Jadi yang didapat, teori dan praktek sejajar, itu yang didapat beliau," kata dia.
Diajak ke Jerman
Pada 1982, Agar yang sudah berulang kali membantu kerja-kerja Hans di Riau itu pun diajak bertandang ke negara Jerman. Tapi Agar sempat meragukan ajakan orang bule itu, ia menganggap bahwa yang disampaikan Hans tersebut hanya gurauan semata.
"Setelah itu, tahun 1982, beliau bergurau dengan saya, 'jalan-jalan ke Jerman yuk', saya iyakan saja saat itu tanpa berpikir panjang," ungkap Agar.
Tak lama setelah berselang, Hans Kalipke pun pulang lebih dulu ke negerinya. Masa-masa itu, Agar terus terngiang atas ajakan tersebut, namun ia masih tetap saja meragukannya.
Berselang setengah tahun kemudian, Hans rupanya kembali menagih ucapannya untuk membawa Agar ke Jerman.
"Karena kita (Sakai) menjunjung tradisi, saya pun tanya ibu dan bapak. 'Pak saya diajak tuan itu ke Jerman'. Bapak saya mengizinkan, tapi ibu gak bolehin karena takut ada apa-apa (di sana)," kenangnya.
Lantas karena tekad yang begitu kuat, Agar pun memutuskan untuk berangkat juga. Ayah Agar Kalipke yang merupakan kepala perbatinan Sakai masa itu terus mengingatkannya supaya berhati-hati dan mawas diri.
Petuah 'Anak laki-laki gak boleh mati di rumah' menjadi cambuk semangat bagi Agar untuk berkelana. Niat dalam benaknya masa itu untuk belajar dan mencari pengalaman hidup baru.
Berangkat seorang diri
Dengan kemampuan bahasa Inggris yang masih terbata-bata, Agar memantapkan diri untuk berangkat ke Jerman menemui Hans. Walaupun ada rasa takut dan risau di benaknya kala itu, namun semangat yang besar tersebut melunturkan rasa takut.