alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Alihkan China, Luhut Ingin Investor Kendaraan Listrik Masuk Indonesia

Eko Faizin Selasa, 20 Oktober 2020 | 14:35 WIB

Alihkan China, Luhut Ingin Investor Kendaraan Listrik Masuk Indonesia
Menko Marves, Luhut Binsar Pandjaitan (Dok. Humas Kemenko Marves)

Luhut menuturkan sebelum pandemi banyak negara berinvestasi di China. Namun kini, beberapa di antaranya mulai mencari negara lain untuk mengalihkan investasi mereka.

SuaraRiau.id - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memaparkan keinginannya, Indonesia menjadi destinasi investasi kendaraan listrik. Sehingga bisa membangun ekonomi dalam konteks Making Indonesia 4.0.

Hal tersebut dikatakan Luhut Binsar Pandjaitan saat menghadiri Hari Ulang Tahun Indika Energy ke-20 dalam acara INDY Fest 2020, Senin (19/10/2020).

Luhut menuturkan sebelum pandemi banyak negara berinvestasi di China. Namun kini, beberapa di antaranya mulai mencari negara lain untuk mengalihkan investasi mereka.

Indonesia, kata Luhut, dalam pernyataan di Jakarta, Selasa (20/10/2020), menjadi salah satu negara yang mulai dilirik para investor untuk memindahkan industri mereka.

"Kita perlu mentransformasi kegiatan ekonomi kita dalam usaha membuat Making Indonesia 4.0, supaya kita mampu memanfaatkan situasi ini dengan menunjukkan bahwa kita kompetitif dan mampu bersaing secara global," katanya.

"Kita sedang mengalami perubahan lanskap geopolitik yang sangat cepat. Perubahan ini ditandai dengan adanya perubahan dunia akibat teknologi dan globalisasi yang sangat cepat, kemudian adanya ketegangan geopolitik yang semakin meningkat di berbagai negara, terutama antara Amerika Serikat (AS) dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dalam konteks perang dagang," tambahnya.

Belum lagi, katanya, dunia termasuk Indonesia juga menghadapi Covid-19 yang semakin mempercepat perubahan lanskap geopolitik dunia. Salah satu sektor yang bisa dimanfaatkan dan dikembangkan adalah sektor otomotif, terutama electric vehicle (EV) atau kendaraan listrik.

"Salah satu sektor yang dikembangkan dalam Making Indonesia 4.0 di Indonesia adalah sektor otomotif, terutama Electric Vehicle (EV). Indonesia memiliki sumber daya melimpah dalam pembuatan EV yakni nikel, aluminium, dan tembaga. Ketiga jenis sumber daya ini dapat diintegrasikan agar membuat industri hilirisasi yang kompetitif di ranah persaingan global,” kata Luhut.

Luhut menyebut saat ini produsen mobil dan baterai dunia berlomba mencari destinasi investasi untuk fasilitas produksi mereka. Berdasarkan Global Battery Alliance, peningkatan produksi kendaraan listrik dapat menghasilkan penciptaan 10 juta pekerjaan, dan nilai ekonomi sekitar 150 miliar dolar AS karena berkontribusi pada kemajuan terkait dengan Perjanjian Paris tentang perubahan iklim.

"Apabila semua atau sebagian besar supply chain yang terkait bisa diproduksi di Indonesia, maka Indonesia bisa menjadi pemain kunci secara global di industri masa depan ini," katanya.

Komentar

Berita Terkait