Permintaan Tinggi, Ikan Salai Menu Alternatif Masa Pandemi

Di masa pandemi Covid-19 sekarang ini, permintaan akan ikan asap ini justru makin meningkat.

Eko Faizin
Rabu, 16 September 2020 | 11:07 WIB
Permintaan Tinggi, Ikan Salai Menu Alternatif Masa Pandemi
Seorang warga menyusun ikan patin salai di Desa Koto Masjid, Kabupaten Kampar, Riau pada September 2020. (Antara/FB Anggoro)

SuaraRiau.id - Ikan salai merupakan salah satu bahan kuliner khas di Riau. Ikan salai bisa diolah menjadi berbagai menu spesial.

Di masa pandemi Covid-19 sekarang ini, permintaan akan ikan asap ini justru makin meningkat.

Hal tersebut dikatakan Suhaimi, salah satu pelopor perikanan ikan salai di sentra bisnis ikan patin di Desa Koto Masjid, Kabupaten Kampar.

“Dampak pandemi di Koto Masjid tidak terlalu terasa karena kita memproduksi kebutuhan penting masyarakat, yaitu ikan asap yang jadi alternatif untuk makanan pada masa pandemi,” ungkapnya seperti yang dikutip Antara, Rabu (16/9/2020).

Suhaimi mengatakan produksi ikan salai kini menyerap bahan baku ikan patin segar sekitar 240 ton dalam sebulan.

Jumlah itu ada sekitar 3-5 persen dari total produksi ikan segar di desa berjuluk Kampung Patin tersebut.

Luas areal kolam di desa tersebut sekitar 120-150 hektare yang mayoritas dikelola warga setempat. Setiap hektare bisa terdiri dari delapan kolam patin.

Dalam sehari warga setempat bisa memanen 12 hingga 15 ton ikan segar, sehingga jumlah panen rata-rata mencapai 360 sampai 450 ton dalam sebulan.

Perikanan ikan tawar di Desa Koto Masjid dimulai sejak awal tahun 2000 dan sudah terintegrasi mulai dari pembibitan, pembuatan pakan, kolam ikan, hingga pengolahan jadi barang bahan makanan seperti ikan salai, abon ikan, nuget dan bakso ikan.

Ikan salai dari Kampung Patin tersebut dijual dengan harga Rp 70 ribu per kilogram, jauh lebih murah daripada ikan salai dari ikan sungai lainnya yang harganya ratusan ribu per kilogram.

“Justru di masa pandemi pembelian ikan asap lebih stabil karena harganya murah. Ikan salai juga tahan lama sehingga orang tidak perlu setiap hari ke pasar untuk belanja pada masa pandemi ini,” ujarnya.

Diversifikasi produk di bagian hilir membuat hasil panen kolam warga terserap langsung untuk pengolahan ikan salai.

Harga jual ikan salai juga lebih tinggi daripada menjual ikan segar yang mencapai Rp 14.500 per kilogram.

Di desa tersebut terdapat 10 usaha pengasapan ikan yang mampu menyerap tenaga kerja hingga 150 orang.

Selain harganya yang murah, ikan salai dari patin terkenal karena kelezatannya dengan karakteristik dagingnya yang lebih lembut dan gurih.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini