Eko Faizin
Kamis, 10 September 2026 | 20:14 WIB
Foto udara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Siak. [Ist]
Baca 10 detik
  • Tim gabungan memadamkan karhutla di berbagai wilayah Siak akibat temuan 14 titik panas oleh BMKG pada Rabu (9/9/2026).
  • Kapolres Siak AKBP Sepuh Siregar menyatakan sebagian besar lokasi kebakaran telah berhasil dipadamkan oleh tim gabungan.
  • Petugas mengerahkan alat berat, helikopter water bombing, serta puluhan mesin pemadam untuk mengatasi sisa kebakaran di lapangan.

SuaraRiau.id - Tim gabungan Polri, TNI, BPBD, Manggala Agni, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api (MPA), pihak perusahaan, dan warga setempat berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Siak.

Hal tersebut menyusul laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, yang mencatat sebanyak 14 titik panas (hotspot) per Rabu (9/9/2026) di kabupaten tersebut.

Kapolres Siak AKBP Sepuh Siregar menyampaikan sebagian besar lokasi kebakaran telah berhasil dipadamkan.

"Untuk titik di Kampung Mengkapan, areal PT BSP di Kampung Dayun, Dusun Bumi Jopan, serta areal PT DSI di Desa Rantau Panjang, api utama dilaporkan sudah padam. Tim kini fokus menyiram sisa-sisa asap dan berjaga untuk memastikan area tersebut benar-benar steril," ujarnya, Kamis (10/9/2026).

Titik-titik api tersebut tersebar di sejumlah desa dan kecamatan di wilayah setempat. Penanganan berupa pemadaman serta pendinginan dilakukan secara serentak di enam lokasi berbeda.

Kapolres menyatakan, para personel tetap disiagakan di lapangan untuk melakukan proses pendinginan dan patroli ketat agar api tidak kembali menyala.

Sementara itu, pemadaman intensif masih terus berlangsung di Dusun Suka Mulia, Kampung Dayun, karena api dan kepulan asap tebal masih ditemukan.

Di lokasi ini, alat berat dikerahkan untuk membuat sekat bakar guna menahan laju perambatan api.

Selain dukungan helikopter, puluhan mesin pemadam dan mobil pemadam kebakaran turut dikerahkan di seluruh titik operasi

"Proses penanganan di Dusun Surya, Kampung Tualang juga mendapat bantuan armada helikopter water bombing untuk memadamkan api dan asap tebal dari udara," jelasnya.

Sepuh menambahkan karakteristik lahan gambut menjadi tantangan terbesar bagi petugas, sebab bara api kerap tersisa di bawah permukaan tanah meski bagian atas terlihat padam.

"Cuaca panas, angin kencang yang berubah arah, serta minimnya curah hujan membuat patroli dan pendinginan harus terus dimaksimalkan hingga kondisi dinyatakan sepenuhnya aman," terang dia.

Load More