Eko Faizin
Minggu, 30 Agustus 2026 | 15:51 WIB
Upaya pemadaman karhutla oleh Manggala Agni Daops Rengat di Pelalawan, Indragiri hulu, dan Indragiri Hilir. [ANTARA/HO-Manggala Agni]
Baca 10 detik
  • Tim Manggala Agni Daops Rengat memadamkan kebakaran hutan dan lahan di tiga wilayah sejak Minggu, 30 Agustus 2026.
  • Lokasi di Pelalawan serta Indragiri Hilir berangsur kondusif dan terkendali meskipun petugas menghadapi keterbatasan sumber air bersih.
  • Kebakaran di Indragiri Hulu masih aktif merambat sehingga memerlukan tambahan personel serta alat berat untuk membuka akses.

SuaraRiau.id - Tim Manggala Agni Daerah Operasi Sumatera VII Rengat terus berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di 3 lokasi wilayah Pelalawan, Indragiri Hilir dan Indragiri Hulu.

Kepala Manggala Agni Daops Rengat Muhammad Sodik mengatakan lokasi pertama yang ditangani masih di Kerumutan, Pelalawan dengan luas mencapai 702 hektare.

"Kondisi api sudah tersekat, progres pengerjaan dan pengendalian menunjukkan tren sangat positif dengan status tahap pendinginan. Target pengerjaan yaitu penyerangan terhadap bara api yang tersisa di bawah lapisan gambut dan akar pohon," katanya, Minggu (30/8/2026).

Lokasi kedua di Desa Kertajaya Kecamatan Kempas Indragiri Hilir yang merupakan lahan gambut seluas 17 hektare dengan kondisi sudah mulai kondusif dan sebagian besar kepala api sudah tersekat.

Pihaknya terkendala sumber air yang mulai terbatas sehingga tim mengoptimalkan penggunaan embung guna memangkas jarak serangan menuju kepala api.

Kondisi angin yang bertiup kencang di lokasi, serta jarak pandang yang cukup terbatas juga menjadi kendala.

Terakhir kebakaran terjadi di Kuantan Babu, Indragiri Hulu dengan api masih aktif dan sudah masuk ke bagian hutan primer tegakan kayu.

Karhutla di wilayah tersebut merupakan penjalaran api dari Sungai Guntung Hilir yang sudah hangus 400 hektare lebih.

"Di sini terdapat dukungan tambahan personil 1 regu dan peralatan bantuan kendali operasi dari Manggala Agni Daops Sumatera V Dumai ke lokasi," ujarnya.

Tim lanjutnya masih berupaya melakukan penyekatan kepala api guna memutus penjalaran api.

Tim terkendala akses masuk ke kepala api yang harus di tempuh sejauh 1,5 Kilometer berjalan kaki, sumber air terbatas dan angin kencang di lokasi.

"Dukungan alat berat dilakukan untuk membuka akses jalan dan pembuatan embung sebagai penyediaan sumber air," tegas Sodik. (Antara)

Load More