- Delegasi jurnalis mengunjungi situs bersejarah Dazu Rock Carvings di Chongqing, Tiongkok, pada Rabu, 24 Juni 2026.
- Situs warisan dunia UNESCO ini berisi lebih dari 50.000 patung dan prasasti yang dibangun sejak Dinasti Tang.
- Pahatan batu ini menyajikan visualisasi ajaran Buddha, Taoisme, dan Konfusianisme mengenai hukum karma serta nilai moral kehidupan.
SuaraRiau.id - Sampailah kami di Dazu Rock Carvings atau Ukiran Batu Dazu, salah satu tempat wisata bersejarah kawasan Distrik Dazu, Chongqing, Tiongkok, Rabu (24/6/2026).
Delegasi jurnalis Sumatera disambut rintik hujan dan udara basah dengan dikelilingi pepohonan yang rimbun. Gerimis menjadikan tangga batu yang kami injak basah sehingga harus berhati-hati.
Namun, kondisi tangga yang menanjak dan menurun tak menyurutkan untuk mendengarkan penjelasan pemandu wisata, Carrie tentang wisata sejarah itu.
Untuk sampai di tempat ini, rombongan memerlukan waktu sekitar 1,5 hingga 2,5 jam perjalanan dari pusat kota Chongqing.
Carrie menjelaskan, ukiran Batu Dazu adalah serangkaian lebih dari 50.000 patung dan prasasti keagungan kuno Tiongkok yang dipahat di tebing-tebing.
Setiap pahatannya tertuang makna dan pesan berbeda yang mendalam tentang kehidupan hingga ke alam baka.
"Ukiran Batu Dazu adalah harta karun budaya yang memadukan ajaran Buddha, Taoisme, dan Konfusianisme secara harmonis," kata, Carrie.
Dia menuturkan bahwa pembangunan Dazu Rock Carvings dimulai pada masa Dinasti Tang dan berkembang pesat pada masa Dinasti Song.
Pengembangan situs tersebut dipelopori oleh Biksu Zhao Zhifeng yang menjadikan pahatan batu sebagai media menyampaikan ajaran moral kepada masyarakat, terutama pada masa ketika banyak orang belum dapat membaca dan menulis.
Relief mahakarya hasil buatan tangan ini menggambarkan balasan atas setiap perbuatan manusia (karma).
Selain pahatan patung dan simbol, di Dazu Rock Carvings juga menyimpan kaligrafi kuno aksara mandarin.
Visualisasi tentang surga, neraka, serta hukum karma disampaikan melalui ukiran yang detail sehingga mudah dipahami oleh masyarakat pada zamannya.
"Beragam (gambaran) pelajaran kehidupan dan ketuhanan ada di tempat ini," jelasnya.
Carrie menuturkan, di situs bersejarah tersebut juga memuat cara membesarkan dan mendidik anak dengan baik, pelajaran tentang berbakti kepada orangtua, hingga kisah tentang surga dan neraka.
Pada reliefnya memuat cerita-cerita moral, banyak di antaranya menggambarkan ajaran tentang kebaikan, karma, dan nilai-nilai kehidupan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Kader Ditangkap KPK, Gerindra Serahkan Proses Hukum Bupati Kuansing
-
KPK Periksa Ajudan Pangdam Tuanku Tambusai dan 2 Anggota DPRD Riau
-
Alasan KPK Tangkap Istri Kedua Bupati Kuansing saat OTT
-
Afni Zulkifli Masuk 22 Sosok Reset Indonesia, Bareng Alissa Wahid dan Bivitri Susanti
-
SF Hariyanto Minta Pegawai Jangan Ikuti Perintah Atasan yang Salah