- Aula Musyawarah Warga Qianmen di Beijing menjadi wadah partisipasi warga untuk mengelola lingkungan permukiman tradisional sejak 2012.
- Masyarakat menggunakan metode lima tahap keterlibatan untuk menyelesaikan berbagai masalah lingkungan serta fasilitas umum secara mandiri.
- Model tata kelola akar rumput ini berhasil meningkatkan solidaritas sosial sekaligus melestarikan karakter budaya kawasan bersejarah tersebut.
SuaraRiau.id - "Urusan warga dibahas oleh warga, dan keputusan warga ditentukan oleh warga", begitulah slogan pada papan yang terpampang di ruang Aula Musyawarah warga Qianmen, Kota Beijing, Tiongkok.
Bangunan ini berlokasi di Komunitas Caochang, Subdistrik Qianmen, Distrik Dongcheng, dan dikenal luas sebagai model partisipasi warga dalam pengelolaan lingkungan permukiman tradisional hutong Beijing.
Delegasi jurnalis dari Sumatera, termasuk Suarariau.id berkesempatan mengunjungi kawasan tua dengan deretan bangunan didominasi warna abu-abu pada Jumat (26/6/2026).
Wakil Sekretaris Komunitas Caochang, Subdistrik Qianmen, Distrik Dongcheng, Tian Tian menyambut hangat kedatangan kami.
Dia menjelaskan, Aula Musyawarah warga Qianmen merupakan salah satu contoh inovasi tata kelola masyarakat tingkat akar rumput di Beijing.
Kondisi ini tentu saja tidak lazim bagi banyak orang yang memandang Tiongkok sebagai negara komunis dengan sistem pemerintahan yang serba terpusat.
Akan tetapi, di kawasan yang bersih dan tertata rapi ini, berbagai persoalan lingkungan justru diselesaikan melalui musyawarah warga.
Tian lantas mengajak kami memasuki hutong atau lorong, memperlihatkan bagaimana kawasan bersejarah itu terus dipertahankan tanpa kehilangan fungsinya sebagai permukiman.
"Kami ingin mempertahankan karakter hutong, namun pada saat yang sama membuat (tempat ini) nyaman untuk ditinggali," terangnya.
Tian mengungkapkan aula musyawarah tersebut mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan komunitas mereka sendiri.
Menurutnya, aula digunakan untuk menyelesaikan warga, semangat gotong royong sejak 2012.
Tian menjelaskan, kawasan yang terdiri dari 25 lorong tersebut ditempati sekitar 2.500 jiwa.
"Ada sekitar 1.000 kepala keluarga (KK), dengan 600 rumah," sebut Tian.
Dari ribuan warga itu sepertiga penduduknya merupakan masyarakat yang sudah lanjut usia (lansia) dan pensiunan.
Beberapa warga di kawasan tersebut juga sudah ada yang pindah.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
Terkini
-
1.590 Anak Nasabah PNM Terima Beasiswa, Membuka Mimpi Keluarga Prasejahtera
-
Dana SAL Rp400 Triliun Masuk Himbara, BRI Siap Perkuat Pembiayaan UMKM dan Sektor Produktif
-
Mendengar Langsung Tiongkok: Ungkap Keterbukaan, Tepis Stigma Dunia Barat
-
Pemprov Riau Percepat Puluhan Izin Wilayah Pertambangan Rakyat di Kuansing
-
Setelah UAS, Ahli Psikologi Forensik Jadi Saksi Abdul Wahid: Mens Rea Tak Utuh