- Pengadilan Tipikor Pekanbaru menggelar sidang kasus korupsi Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid dengan menghadirkan saksi ahli hukum administrasi negara.
- Jaksa KPK menghadirkan saksi ahli Dr W Riawan Tjandra untuk memperkuat pembuktian terkait kasus dugaan korupsi tersebut.
- Kesaksian saksi mahkota mengungkap adanya perintah pengumpulan uang dari Abdul Wahid bagi para Kepala UPT di Riau.
SuaraRiau.id - Sidang kasus dugaan korupsi yang menjerat Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid kembali digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Pekanbaru, Kamis (11/6/2026).
Persidangan kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan saksi ahli untuk memperkuat pembuktian.
Saksi yang dihadirkan adalah Dr W Riawan Tjandra SH MHum, seorang pakar Hukum Administrasi Negara yang memberikan keterangan secara daring.
Di hadapan majelis hakim, Riawan memaparkan latar belakangnya sebagai dosen tetap Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta sejak 1993 serta pengalamannya mengajar di berbagai perguruan tinggi.
Ia juga menegaskan bahwa sebelumnya telah memberikan keterangan kepada penyidik KPK sesuai dengan Berita Acara Pemeriksaan (BAP).
"Saya sebelumnya juga telah memberikan keterangan kepada penyidik KPK. Kesaksian saya sesuai dengan BAP," ujarnya.
Pantauan di lokasi, ruang sidang Marjono kembali dipadati pengunjung. Sejumlah warga, termasuk ibu-ibu yang mengaku sebagai simpatisan, hadir untuk memberikan dukungan kepada Abdul Wahid.
Sehari sebelumnya, Rabu (10/6/2026), sidang menghadirkan momen penting dengan diperiksanya Dani M Nursalam dan M Arief Setiawan sebagai saksi mahkota.
Keduanya memberikan keterangan yang dinilai jaksa memperkuat konstruksi perkara.
Ketua Tim JPU KPK, Meyer Simanjuntak, menyebut kesaksian kedua saksi tersebut telah menyambungkan rangkaian peristiwa sebagaimana yang diuraikan dalam surat dakwaan.
"Dari keterangan saksi mahkota Dani M Nursalam dan Arief Setiawan, rangkaian peristiwa dalam dakwaan kini menjadi satu kesatuan yang utuh," terangnya.
Menurut jaksa, fakta persidangan menguatkan dugaan adanya perintah pengumpulan uang yang berasal dari Abdul Wahid dan disalurkan melalui orang-orang kepercayaannya.
Jaksa juga mengungkap bahwa perintah tersebut bermula dari pertemuan di awal masa jabatan Abdul Wahid sekitar Maret hingga April 2025 di kediaman gubernur.
Dalam pertemuan itu, Dani M Nursalam dan Arief Setiawan disebut dipanggil secara khusus untuk membahas kebutuhan operasional gubernur yang berkaitan dengan Dinas PUPR.
Instruksi tersebut kemudian diteruskan kepada para Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang berada di bawah struktur organisasi terkait.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
Pilihan
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Terkini
-
Polda Riau Tetapkan 55 Tersangka Karhutla, Luas Terbakar 3.378 Hektare
-
Karhutla Masih Membara di Indragiri Hilir, Indragiri Hulu dan Meranti
-
Kabut Asap, Penderita ISPA di Pekanbaru Melonjak Capai 400 Orang per Hari
-
Pria di Indragiri Hulu Diduga Sebabkan Karhutla 200 Hektare, Ada Bibit Sawit
-
Malam Ini, Kualitas Udara di Pekanbaru Sangat Tidak Sehat