- Pengadilan Negeri Kuansing menjatuhkan vonis 2,5 tahun penjara terhadap pelaku kekerasan seksual anak di bawah umur pada 8 Juni 2026.
- Ayah korban kecewa karena merasa minim pendampingan dari lembaga terkait sementara pelaku justru mendapatkan dukungan hukum intensif.
- Pendamping keluarga korban berencana melaporkan ketidakadilan vonis kepada Kementerian PPA, DPR RI, serta lembaga pengawas kejaksaan di Jakarta.
SuaraRiau.id - Ayah korban pemerkosaan anak di bawah umur, W tak terima dengan putusan hakim Pengadilan Negeri Kuantan Singingi (Kuansing) yang memvonis pelaku kekerasan seksual hanya 2,5 tahun pada Senin (8/6/2026).
Warga Sentajo Raya ini merasa tidak ada keadilan hukum bagi putrinya yang masih SMP dan kini hamil 6,5 bulan akibat tindakan asusila pelaku.
"Saya sungguh kecewa dengan hukum yang ada di Kuansing karena tidak adil," ungkap W kepada Suara.com, Rabu (10/6/2026).
Dia mengungkapkan selama proses hukum yang dijalani merasa tidak didukung lembaga yang seharusnya mendampingi korban anak di bawah umur.
W mengisahkan, sebelum proses hukum dijalani sudah mengadu ke UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Provinsi Riau kemudian diarahkan ke PPA Kuansing.
"Pihak PPA Kuansing hanya menemani korban saat di kepolisian, tidak ada sekalipun melakukan pendampingan di pengadilan," ungkap ayah korban.
W menyinggung, tidak ada kehadiran negara bagi korban pelecehan seksual seperti anaknya. Di sisi lain, pelaku anak malah dinilai mendapat keistimewaan dengan pendampingan.
"Kami sebagai keluarga korban harus menelan kepahitan dalam mencari keadilan. Tidak ada dukungan dari mana pun, sementara pelaku diistimewakan lebih seperti dilindungi, mereka dibantu Bapas (Balai Pemasyarakatan), Posbakum (Pos Bantuan Hukum)," ucapnya.
Menurut dia, seharus sang putri korban pelecehan mendapat dukungan dan dilindungi lembaga perlindungan anak. Tetapi malah pelaku yang memperoleh pendampingan.
Dia menganggap seolah-olah korban disepelekan, padahal masa depannya lebih lancur harus menanggung beban seumur hidup.
"Yang semula bercita-cita tinggi kini musnah sudah," tutur orangtua.
W lantas menanyakan mengapa jaksa Pengadilan Negeri Kuansing menuntut pelaku hanya 2 tahun penjara.
"Dan yang saya heran kepada jaksa. Ada apa dengan jaksa ini kok bisa hanya menuntut 2 tahun penjara dengan entengnya," kesalnya.
Ditambah lagi, berakhir dengan vonis hakim terhadap terdakwa hanya 2 tahun 6 bulan. Vonis tersebut dinilai sangat singkat dibanding hukuman seharusnya.
"Setelah itu, pelaku bebas bisa hilang beban. Tapi bagaimana dengan anak saya menanggung beban seumur hidup," keluhnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Jadwal Pasar Murah di Kampar dan 4 Kecamatan Wilayah Pekanbaru
-
Napi Pekanbaru Kabur Dikejar ke Jakarta, Isu Iming-imingi Petugas Rp30 Juta Mencuat
-
KPK Periksa SF Hariyanto, Eks Ketua KPID Riau hingga Anggota Dewan
-
Kemunculan Harimau Bikin Panik, Sekolah di Pulau Burung Inhil Diliburkan
-
Sempat Ditangkap, Bandar Narkoba di Siak Kabur dengan Tangan Diborgol