- Pelaku pencabulan anak hingga hamil di Kuansing hanya dituntut 2 tahun penjara.
- Keluarga korban tak terima dengan tuntutan jaksa di Pengadilan Negeri Kuansing.
- Selain itu, ayah korban mengungkapkan sejumlah kejanggalan dalam persidangan.
SuaraRiau.id - Keluarga korban dugaan pencabulan anak di bawah umur hingga hamil di Sentajo Raya tidak terima dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Pengadilan Negeri Kuantan Singingi (Kuansing), Rabu (3/6/2026).
Ayah korban mengungkapkan seharusnya jaksa membela putrinya yang menjadi korban kekerasan seksual.
Kata dia, terdakwa pelaku persetubuhan anak hanya dituntut 2 tahun penjara padahal korban masih di bawah umur dan kini tengah hamil 6,5 bulan.
"Padahal korban yang masih di bawah umur disetubuhi sampai hamil," ujarnya, Kamis (4/6/2026).
Keluarga juga menanyakan alasan JPU menuntut pelaku hanya 2 tahun penjara, tanpa mempertimbangkan efek traumatis dan masa depan korban yang masih panjang.
"Bagaimana dengan korban anak yang hamil harus menanggung trauma seumur hidup dan masa depannya hancur," ungkap sang ayah.
Memang pelaku ketika melakukan tindakan asusila juga masih di bawah umur, tapi bukan berarti hanya dihukum ringan.
"Pelaku hanya menjalani hukuman ringan dan bebas. Harusnya jaksa mempertimbangkan psikologi korban, dan mengedepankan rasa kemanusiaan," sebutnya.
Dengan tuntutan tersebut, keluarga tak terima karena jauh dari yang seharusnya sesuai pasal 473 UU KUHP ancamannya 12 tahun.
"Kami tidak terima dengan tuntutan jaksa," tegasnya.
Lebih lanjut, orangtua juga membeberkan kejanggalan lain saat persidangan.
Pada sidang pertama, salah satu saksi tidak diperkenankan masuk mengikuti sidang tanpa alasan. Pihaknya juga tidak diberi undangan tertulis.
"Sidang pertama 25 Mei 2026, salah satu saksi tidak diperkenankan masuk. Kami tidak dapat undangan, taunya dari penyidik polisi" terang dia.
Tidak sampai di situ, keluarga korban lagi-lagi tidak mendapat undangan menghadiri sidang kedua pada Rabu (3/6/2026).
"Kami keluarga korban tidak dikasih tau, tapi mencari tau tanya ke jaksa lewat WA (WhatsApp). Masa kami tidak dikasih undangan dan nomor perkaranya?" tuturnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Pemkot Pekanbaru Siapkan 3 Stel Seragam Gratis untuk 20 Ribu Siswa Baru
-
Kompolnas Soroti Kasus Polisi Riau Diduga Habisi Nyawa Ibu Kandung
-
Hilangkan Nyawa Ibu Kandung, Oknum Polda Riau Terancam Dipecat
-
Cair! Pemprov Riau Dapat Rp30 Miliar untuk Penanganan Karhutla
-
Bisnis Makin Dinamis, BRI Hadirkan Kemudahan Finansial Lewat Qlola Mobile