- Pengusaha Laundry di Pekanbaru menaikkan tarif imbas harga plastik melonjak.
- Kenaikan harga plastik tersebut merupakan imbas konflik geopolitik dan perang.
- Pengusaha khawatir kenaikan tarif bis membuat pelanggan beralih ke tempat lain.
SuaraRiau.id - Konflik geopolitik dan perang Amerika Serikat-Iran menjadikan harga plastik di Indonesia yang mencapai hingga 50 persen pada April 2026.
Lonjakan harga plastik mulai berdampak langsung pada pelaku usaha kecil di daerah, termasuk Kota Pekanbaru. Kenaikan ini dipicu terganggunya pasokan bahan baku plastik (nafta) dari Timur Tengah.
Linda, salah satu pengusaha laundry di Pekanbaru merasakan dampaknya adalah atas kenaikan harga plastik tersebut.
"Terpaksa kami naikkan harga karena biaya plastik naik cukup tinggi," katanya kepada Riauonline.co.id--jaringan Suara.com, Senin (6/4/2026).
Linda mengaku terpaksa menaikkan tarif layanan akibat meningkatnya biaya operasional, khususnya untuk kebutuhan plastik sebagai kemasan.
Sebelumnya, tarif layanan setrika dihargai Rp3.500 per kilogram, kini naik menjadi Rp4.000 per kilogram.
Untuk layanan setrika satuan, harga naik dari Rp5.000 menjadi Rp5.500. Sementara itu, layanan cuci setrika yang sebelumnya Rp6.000 kini menjadi Rp6.500.
Dia mengungkapkan bahwa keputusan menaikkan harga bukan tanpa risiko. Ia khawatir kenaikan tarif dapat membuat pelanggan beralih ke tempat lain.
"Ini cukup berat bagi kami, karena ada risiko kehilangan pelanggan," ungkap Linda.
Kenaikan harga plastik yang menjadi bahan utama kemasan berdampak luas pada berbagai sektor usaha, terutama UMKM yang sangat bergantung pada efisiensi biaya operasional.
Kondisi ini juga berpotensi memicu kenaikan harga layanan dan produk lainnya di tingkat konsumen.
Pengamat ekonomi Riau, Dahlan Tampubolon, menjelaskan plastik merupakan produk turunan minyak bumi, khususnya dari bahan baku.
Gangguan distribusi minyak mentah dunia akibat ketegangan di kawasan Selat Hormuz menjadi faktor utama melonjaknya harga.
"Kita tahu plastik itu bukan dibuat dari tepung kanji, tapi dari produk turunan minyak bumi, namanya naphtha. Begitu Selat Hormuz diblokade, harga minyak mentah dunia langsung melambung karena pasokan tersumbat," ulasnya, Senin 6 April 2026.
Dahlan menyebut, kenaikan harga bahan baku di pasar global membuat pabrik kimia internasional lebih dulu menaikkan harga biji plastik. Hal ini kemudian berdampak pada harga produk turunan di dalam negeri.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- 5 Sunscreen Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Segala Usia
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- 3 HP Murah Rp1 Jutaan RAM 8 GB April 2026 untuk Multitasking Lancar
Pilihan
-
Baru 17 Tahun, Siti Khumaerah Sudah Diterima di 5 Kampus Dunia
-
Sidoarjo Mencekam! Tim Jibom Turun Tangan Selidiki Ledakan Maut di Pabrik Baja Waru
-
Siap-siap, Kejari Sleman Beri Sinyal Tersangka Baru Kasus Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Belajar Empati dari Peristiwa Motor Terbakar di SPBU Sriwijaya, Pakai APAR Tidak Perlu Izin
-
Serangan AS-Israel Tewaskan Kepala Intelijen Garda Revolusi Iran Majid Khademi
Terkini
-
Pengusaha Laundry di Pekanbaru Naikkan Tarif Buntut Harga Plastik Naik 50 Persen
-
Kronologi Cucu Bunuh Nenek di Siak, Bawa Kabur Harta Demi Belikan Motor Pacar
-
Sinergi BRI, PNM, dan PT Pegadaian Dorong UMKM Ultra Mikro Naik Kelas
-
Maknai Paskah 2026, BRI Peduli Berbagi Ribuan Paket Sembako
-
4 Rekomendasi Bedak yang Efektif Menutupi Flek Hitam di Usia 40 Tahun ke Atas