Eko Faizin
Senin, 06 April 2026 | 20:42 WIB
Pengusaha Laundry di Pekanbaru Naikkan Tarif Buntut Harga Plastik Naik 50 Persen [freepik]
Baca 10 detik
  • Pengusaha Laundry di Pekanbaru menaikkan tarif imbas harga plastik melonjak.
  • Kenaikan harga plastik tersebut merupakan imbas konflik geopolitik dan perang.
  • Pengusaha khawatir kenaikan tarif bis membuat pelanggan beralih ke tempat lain.

SuaraRiau.id - Konflik geopolitik dan perang Amerika Serikat-Iran menjadikan harga plastik di Indonesia yang mencapai hingga 50 persen pada April 2026.

Lonjakan harga plastik mulai berdampak langsung pada pelaku usaha kecil di daerah, termasuk Kota Pekanbaru. Kenaikan ini dipicu terganggunya pasokan bahan baku plastik (nafta) dari Timur Tengah.

Linda, salah satu pengusaha laundry di Pekanbaru merasakan dampaknya adalah atas kenaikan harga plastik tersebut.

"Terpaksa kami naikkan harga karena biaya plastik naik cukup tinggi," katanya kepada Riauonline.co.id--jaringan Suara.com, Senin (6/4/2026).

Linda mengaku terpaksa menaikkan tarif layanan akibat meningkatnya biaya operasional, khususnya untuk kebutuhan plastik sebagai kemasan.

Sebelumnya, tarif layanan setrika dihargai Rp3.500 per kilogram, kini naik menjadi Rp4.000 per kilogram.

Untuk layanan setrika satuan, harga naik dari Rp5.000 menjadi Rp5.500. Sementara itu, layanan cuci setrika yang sebelumnya Rp6.000 kini menjadi Rp6.500.

Dia mengungkapkan bahwa keputusan menaikkan harga bukan tanpa risiko. Ia khawatir kenaikan tarif dapat membuat pelanggan beralih ke tempat lain.

"Ini cukup berat bagi kami, karena ada risiko kehilangan pelanggan," ungkap Linda.

Kenaikan harga plastik yang menjadi bahan utama kemasan berdampak luas pada berbagai sektor usaha, terutama UMKM yang sangat bergantung pada efisiensi biaya operasional.

Kondisi ini juga berpotensi memicu kenaikan harga layanan dan produk lainnya di tingkat konsumen.

Pengamat ekonomi Riau, Dahlan Tampubolon, menjelaskan plastik merupakan produk turunan minyak bumi, khususnya dari bahan baku.

Gangguan distribusi minyak mentah dunia akibat ketegangan di kawasan Selat Hormuz menjadi faktor utama melonjaknya harga.

"Kita tahu plastik itu bukan dibuat dari tepung kanji, tapi dari produk turunan minyak bumi, namanya naphtha. Begitu Selat Hormuz diblokade, harga minyak mentah dunia langsung melambung karena pasokan tersumbat," ulasnya, Senin 6 April 2026.

Dahlan menyebut, kenaikan harga bahan baku di pasar global membuat pabrik kimia internasional lebih dulu menaikkan harga biji plastik. Hal ini kemudian berdampak pada harga produk turunan di dalam negeri.

Load More