Harry menuturkan melalui program ini, negara, daerah atau bahkan komunitas adat yang berhasil menurunkan angka kehilangan hutan dapat memperoleh dukungan dan insentif karena ikut menyelamatkan bumi dari pemanasan global.
Program ini juga membuka ruang bagi masyarakat adat untuk diakui perannya. Sebab, di banyak tempat, hutan adat justru terjaga karena pengetahuan dan aturan adat yang diwariskan turun-temurun.
"Ketika masyarakat adat menjaga hutan mereka, sesungguhnya mereka sedang berkontribusi langsung pada pengurangan emisi karbon global," ungkapnya.
Program REDD+ menjadi penting untuk memperkuat pengelolaan hutan adat yang tidak hanya dilihat dari sisi sosial dan ekonomi, tetapi juga dari fungsi ekologisnya dalam menyimpan karbon dan menjaga kestabilan iklim.
Harry menyampaikan, Bahtera Alam melakukan langkah nyata seperti inventarisasi keanekaragaman hayati, monitoring hutan adat, dan pembangunan kebun bibit di dalam kawasan adat.
"Kami memastikan bahwa hutan tetap hidup dan produktif tanpa kehilangan nilai ekologisnya," tegas dia.
Keberadaan Komunitas Adat di Riau juga menjadi penting dalam menjaga karbon mengingat terdapat beberapa suku tua seperti, Suku Bonai, Akit, Sakai, Laut, Talang Mamak, Petalangan, Duano, dan Suku Asli Anak Rawa.
Kurang lebih ada 306 suku/komunitas adat yang tersebar di daratan pesisir dan kepulauan yang berada di Riau.
Sejak 2018 hingga 2022 sudah ada 17 komunitas yang mendapatkan pengakuan dan perlindungan Masyarakat Hutan Adat (MHA) di Riau dari pemerintah daerah.
Diketahui, Program REDD+ punya peran strategis dalam mencapai target NDC (Nationally Determined Contribution) Indonesia dari sektor kehutanan.
Indonesia pun telah secara bertahap melakukan implementasi REDD+ dari tahap kesiapan, transisi, dan telah memasuki tahap implementasi penuh sejak tahun 2014.
Dengan sejarah panjang keterlibatan dalam negosiasi REDD+ di tingkat internasional dan implementasi di tingkat nasional, Indonesia telah menunjukkan kemampuan untuk mencapai tujuan REDD+.
Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia telah menerima komitmen pada REDD+ RBP, yaitu GCF dan Norwegia untuk hasil sebelum tahun 2020, FCPF Carbon Fund, dan BioCF-ISFL untuk hasil antara tahun 2019-2024 dan 2021-2025.
Berita Terkait
Terpopuler
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 18 Maret 2026: Raih Pulsa, Skin Trogon Rose, dan Diamond
- 7 HP Baru 2026 Paling Murah Jelang Lebaran, Spek Gahar Mulai Rp1 Jutaan
- Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Idulfitri Pemerintah, NU, Muhammadiyah, dan Negara Lain
- Ratusan Warga Cianjur Gagal Rayakan Lebaran Gara-gara Kena Tipu Paket Sembako Bodong
- Update Posisi Hilal Jelang Idulfitri, Ini Prediksi Lebaran 2026 Pemerintah dan NU
Pilihan
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
-
Pak Menteri Siap Potong Gaji? Siasat Prabowo Hadapi Krisis Global Contek Pakistan
-
Kabar Duka! Pemilik Como 1907 Sekaligus Bos Djarum Meninggal Dunia
-
Resmi! Hasil Sidang Isbat Pemerintah Tetapkan Idulfitri 1447 H Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026
-
Hilal Tak Terlihat, Arab Saudi Tetapkan Idul Fitri 2026 Jatuh pada 20 Maret
Terkini
-
Ribuan Paket Sembako Didistribusikan BRI bagi Warga Desa Angseri dan Desa Sarimekar di Bali
-
Pria di Pekanbaru Ditemukan Tewas Bersimbah Darah Dianiaya Senjata Tajam
-
Pemerintah Hadir bagi Masyarakat, BRI Berangkatkan 12.352 Pemudik dengan 238 Bus
-
Muhammadiyah Pekanbaru Gelar Salat Id pada 20 Maret, Ini Daftar Lokasinya
-
Puluhan Dokter Spesialis di RSUD Siak Ancam Mogok Kerja, Kenapa?