SuaraRiau.id - Hutan menyimpan cadangan karbon yang berada di batang pohon, daun, akar hingga tanah, hasil dari proses fotosintesis selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Provinsi Riau menjadi salah satu wilayah memiliki kawasan hutan sekitar 5,4 juta hektare dengan potensi karbon yang besar.
Direktur Eksekutif Bahtera Alam, Harry Oktavian mengibaratkan cadangan karbon merupakan tabungan untuk bumi.
"Saat hutan tetap utuh, karbon tersebut aman tersimpan di alam. Tetapi begitu pohon ditebang, dibakar, atau hutan dibuka untuk perkebunan dan tambang, tabungan itu pecah," jelas Harry, Selasa (3/2/2026).
Karbon memang tak terlihat mata, namun kehadirannya begitu penting selain keanekaragaman hayati yang ada di hutan.
Menurut Harry, karbon yang tersimpan lepas ke udara dalam bentuk gas karbon dioksida (CO), salah satu gas rumah kaca utama yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.
Dia mengungkapkan, proses hilangnya tutupan hutan itu disebut deforestasi. Semakin luas hutan yang terdeforestrasi, semakin besar pula emisi CO yang dilepaskan ke atmosfer.
Secara umum, Indonesia sebagai salah satu negara dengan hutan tropis terbesar di dunia, memiliki peran besar dalam menjaga agar emisi dari deforestasi tidak semakin meningkat.
"Masalahnya, tekanan terhadap hutan terus meningkat. Pembukaan lahan, pembangunan, dan kebutuhan ekonomi membuat banyak kawasan hutan terancam hilang," sebutnya.
Harry menyatakan semakin tinggi risikonya, semakin besar pula potensi hutan itu akan rusak atau hilang di masa depan.
Jika hal ini terus terjadi, dunia akan kehilangan salah satu benteng alami dalam menahan laju perubahan iklim.
Sejalan dengan itu, dunia kemudian melahirkan sebuah inisiatif global bernama Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation plus (REDD+).
Harry menyampaikan tujuan sederhana REDD+ adalah mengurangi emisi karbon dari deforestasi dan degradasi hutan, sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi upaya menjaga dan memulihkan hutan.
"Melalui REDD+, menjaga hutan tidak lagi sekadar kewajiban moral atau lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi iklim dunia," terangnya.
Apalagi, komitmen Indonesia berkontribusi pada tujuan iklim global di bawah Perjanjian Paris, berupaya untuk mencapai penyerapan karbon bersih pada tahun 2030 (Indonesia’s FOLU Net- Sink 2030) di sektor kehutanan dan penggunaan lahan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Spill Jam Tangan-Tas Branded Anggota DPRD Riau dan Istri, Nilainya Ratusan Juta
-
Hari Gajah Sedunia 2026, Domang 'si Selebriti' dan Eksistensi Gajah Nusantara
-
Sebanyak 2.665 Kasus Kekerasan Anak Terjadi di Riau Selama 2023-2025
-
Pacu Jalur 2026 Tanpa Hiburan Artis, Pemerintah Pusat Cuma Bantu Rp100 Juta
-
Kasus PETI Kuansing, Polisi Sita Ratusan Gram Perhiasan di Toko Emas Kampar