“Disangka Belanda di lubang itu Ali Hasymi dan Sultan Syarif Kasim, ternyata Allah selamatkan, sasaran tersebut merupakan lubang yang kosong,” tambah Muzani.
Kisah heroik Sultan Siak ke-12 tersebut didengar Muzani langsung dari almarhum KH Ali Hasymi saat berziarah ke makam sultan di Siak pada tahun 1993.
Di makam Sultan Syarif Kasim II, KH Ali Hasymi menangis sejadi-jadinya mengenang kisah mereka saat itu.
“Waktu di makam sultan, KH Ali Hasymi menangis sejadi jadinya dan bercerita tentang seorang sultan yang rela turun ke medan perang melepaskan predikat kesultanan, makanya Sultan Syarif Kasim II dapat pangkat Letnan Teretorial dari pasukan rencong Aceh,” beber Muzani.
Waktu itu, kata Muzani lebih jauh, KH Ali Hasymi mengatakan bahwa Sultan Syarif Kasim II sangat layak menyandang gelar pahlawan.
Padahal, lanjut Muzani, pada saat itu belum terpikir soal Sultan Syarif Kasim II harus diberi gelar Pahlawan Nasional.
“Beberapa tahun setelah ucapan KH Ali Hasymi di makam sultan tersebut, kemudian terwujudlah Sultan Syarif Kasim II jadi pahlawan nasional,” sebutnya.
Serahkan harta dan tahta untuk NKRI
Kerajaan Siak sendiri menyatakan diri bergabung kepada Negara Republik Indonesia (NKRI).
Atas bergabungnya tersebut, Sultan Syarif Kasim II menyerahkan kekuasaannya dan juga harta 13 juta Gulden (setara Rp1.000 triliun) pada saat itu terhadap NKRI.
“Sultan serahkan kekuasaan dan hartanya saat bergabung ke Indonesia,” kata Muzani.