Lalu, pada tahun 1955 kedai kopi milik Kim Teng pindah ke tepian Sunga Siak. Kedai itu diberi nama Kedai Kopi Nirmala karena lokasinya tepat berada di penginapan Nirmala. Mereka menyewa di lantai dasar penginapan.
Namun, kedai kopi ini tak berumur panjang. Isu tentang kepulangan warga Tionghoa merebak. Kedai kopi ini ditutup sementara. Saat itu anak Kim Teng sudah berjumlah 7 orang. Anak keenam Kim Teng yang diberi nama Tang Kok Sun lahir pada tahu 1955 dan setahun berikutnya anak bungsu Kim Teng yakni Tang Lie Lian juga lahir.
Nyatanya nasib baik masih berpihak pada Kim Teng. Piagam penghargaan dari Bung Karno dan Ir. Djuanda yang diterima Kim Teng pada tahun 1958 membawanya tetap menetap di Bumi Melayu Lancang Kuning ini.
Kim Teng pun kembali membuka usaha kedai kopi sekitar tahun 1960 atau 1961 dengan nama 'Kedai Kopi Segar' yang berlokasi di Simpang Sago (sekitar Bank Danamon sekarang). Lalu kedai ini berpindah ke kedai di dekat pintu gerbang pelabuhan Pelindo I.
Pada akhirnya di tahun 2002, Kedai Kopi Segar pindah ke jalan Senapelan, Tampan. Di lantai 1 Kim Teng menggeluti usahanya dan di lantai 2 mereka tinggal bersama istri dan ke tujuh anak serta cucu-cucunya.
"Bahwa sebenarnya kedai kopi ini 4 kali pergantian nama. Tapi orang tidak peduli dengan nama itu, orang taunya kedai kopi milik Kim Teng," pungkas Nyoto.
Setahun pindah ke kedai baru, Kim Teng yang lahir pada Maret 1921 menghembuskan nafas terakhir pada 6 Mei 2003 di Pekanbaru. Kim Teng dimakamkan di Pekuburan Warga Tionghoa di Rumbai dengan upacara militer layaknya Tentara Veteran Republik Indonesia.
Kini, nama Kim Teng harum bersama Kopinya yang legendaris. Bahkan telah ada beberapa cabang di berbagai tempat di Kota Pekanbaru.