Salah seorang wanita, kemudian memotong kecil-kecil buah kuini, dan mencampurnya dengan santan dan gula. Dia pun membagikannya pada warga desa, dan mereka sangat menyukainya.
"Mereka kemudian memberi nama minuman itu dengan sebutan Laksamana Mengamuk," ungkap Annisa.