alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Nakes Gugur usai Diserang KKB Papua, Yeremias: Hati Ini Hancur Tercabik-cabik

Eko Faizin Jum'at, 17 September 2021 | 11:47 WIB

Nakes Gugur usai Diserang KKB Papua, Yeremias: Hati Ini Hancur Tercabik-cabik
Gabriella Meilani, nakes yang gugur akibat serangan KKB Papua. [IST]

Seorang tenaga kesehatan (nakes) di puskesmas Distrik Kiwirok, Gabriela Meilan (22) meninggal di jurang usai diserang KKB Papua.

SuaraRiau.id - Kelompok Kriminal Bersenjata atau KKB Papua merusak sejumlah fasilitas umum di Pegunungan Bintang beberapa hari lalu. Puskesmas hingga sekolah dikabarkan dibakar mereka.

Tak hanya itu, sejumlah tenaga kesehatan yang ada di sana dianiaya KKB sebelum melarikan diri. Bahkan ada seorang perawat meninggal dunia akibat insiden kekerasan tersebut.

Seorang tenaga kesehatan (nakes) di puskesmas Distrik Kiwirok, Gabriela Meilan (22) meninggal di jurang usai diserang KKB Papua.

Gabriella Meilani, nakes yang gugur akibat serangan KKB Papua. [IST]
Gabriella Meilan, nakes yang gugur akibat serangan KKB Papua. [IST]

Gabriela Meilan ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa pada Rabu (15/9/2021). Namun, jenazahnya belum bisa dievakuasi dari lokasi karena terkendala peralatan dan cuaca yang tidak mendukung.

Menyikapi kejadian itu, Inisiator Satgas Perubahan Pegunungan Bintang, Yeremias Tapyor mengutuk keras dan menyesalkan tindakan keji yang dilakukan KKB kepada para nakes.

Yeremias mengecam tindakan itu lantaran para nakes telah berjuang menjalankan misi kemanusiaan, untuk melayani kesehatan masyarakat pelosok Papua, namun justru jadi sasaran penyerangan.

Dia sangat terpukul atas meninggalnya perawat muda Gebriella Meilani, dan sejumlah nakes terluka parah dalam serangan brutal tersebut.

Yeremias menyampaikan kesedihan yang mendalam.

Yeremias Tapyor sendiri merupakan sosok inisiator sekaligus pihak yang merekrut sejumlah orang untuk menjadi tenaga medis, dan melayani di Distrik Kiwirok.

“Tidak disangka, peristiwa itu terjadi disaat engkau yang berjuang menyelamatkan orang Papua di Pegunungan Bintang dari kepunahan, justru menjadi korban di tempat tugas. Saya sebagai mantan pimpinan sekaligus menjadi orangtua engkau dan kawan-kawanmu di Pegunungan Bintang, saat ini merasa hati ini hancur tercabik-cabik melihat berita duka yang sedang tersebar di media ini,” kata Yeremias dikutip dari Hops.id--jaringan Suara.com, Jumat (17/9/2021).

“Saya membekali kalian dengan pelayanan kasih bukan dengan senjata yang mematikan. Sungguh memiluhkan hati. Saya berani menempatkan kalian melayani di pelosok negeriku, karena saya merasa masyarakat di negeriku cinta damai,” imbuhnya.

Yeremias juga mengatakan bahwa sejak awal pihaknya hanya ingin menjalan misi mulia, di mana mempermudah jangkauan pelayanan kesehatan di daerah tersebut.

“Saya menempatkan kalian dengan tujuan yang mulia, yaitu untuk memperpendek rentang kendali jangkauan Yankes (Pelayanan Kesehatan) di daerah terjauh, terisolir, dan perbatasan yang selama sekian tahun tidak menerima sentuhan pelayanan kesehatan yang optimal, dan kalian sudah membuktikannya,” ujar Yeremias.

Yeremias menilai, kerja tulus ikhlas pelayan kesehatan suster yang akrab dipanggil Meilani bersama rekan sejawatnya di Kiwirok telah berhasil. Bahkan di wilayah tersebut angka kematian bisa ditekan.

“Keberhasilan kalian telah terbukti dengan menurunkan angka kematian ibu dan anak, menurunkan angka kesakitan, menekan angka rujukan dan kematian,” terangnya.

Dia pun mempertanyakan kepada para anggota KKB yang juga berasal dari Papua, mengapa mereka begitu keji membunuh para nakes yang tengah berjuang menyejahterakan masyarakat sekitar.

“Oh, negeriku kenapa engkau sekejam ini terhadap anak-anak ini.? Apa salah mereka? Mereka bukan musuhmu sayang. Memang mereka anak sebrang, beda ras tetapi datang dengan tujuan mulia. Mereka datang untuk menyelamatkan anak negeri kita,” ucap Yeremias tersirat untuk KKB.

Pengabdian tulus ikhlas itu, menurut Yeremias telah dibuktikan dengan tabahnya para tenaga medis ini melayani di daerah terpencil di Pegunungan Bintang, Papua. Wilayah yang akses moda transportasinya sangat sulit dengan bebagai kekurangan fasilitas.

“Ini mereka buktikan, mereka bisa tabah dan melayani di daerah terpencil dengan meninggalkan sanak saudaranya. Meninglkan hiruk-pikuknya keramaian kotanya. Engkau tahu sendiri apa yang mereka sudah lakukan di sini. Belum tentu anak negeri sendiri dapat menjangkau luasnya negeri ini. Memang mereka berasal dari sebrang, tetapi saya yakin hatinya baik. Wahai negeriku,” ucapnya lagi.

Komentar

Berita Terkait