Tere juga menjelaskan bahwa dirinya sejak kecil bergelut dengan pertanyaan seputar agamanya dengan guru agamanya (suster) kala itu.
“Ketika saya SMP saya pernah mempertanyakan beberapa hal tentang posisi Nabi Isa di dalam bibble (kitab). Karena yang jelas Nabi Isa berdoa di taman Getsemani kepada Tuhan. Kepada Bapa-Nya,” kata dia.
Padahal, sepanjang yang ia ingat bahwa waktu itu surat Markus jelas bahwa yang harusnya disembah itu adalah Allah yang Esa.
“Ketika saya menyampaikan itu, guru agama saya dulu saya di kesusteran saya guru agamanya juga suster maka saya tanyakan itu. Dan ketika saya tanyakan kenapa Yesus disalib juga, kata suster saya, saya kurang beriman,” kenang Tere.
Karena disebut mempertanyakan hal-hal yang di luar jangkauan pemikiran manusia. Sejak itu Tere mengaku tak berani menanyakannya lagi.
Saat menginjak usia kuliah, Tere kembali dihadapkan pada nuraninya yang terusik. Ia berkesempatan berdiskusi dengan nenek sahabatnya yang mualaf.
“Ketika saya sedang berdiskusi dengan teman saya soal eksistensi siapa Tuhan dan pemilik alam semesta ini, mereka menjawab Allah. Rupanya Yesus juga dia akui dalam islamm bukan sebagai Allah, tapi sebagai Nabi.
Dari situlah, ia kemudian memulai riset mencari tahu versi Yesus dalam ajaran Islam.
“Pada waktu itu saya sudah Katekisasi (mendapat bimbingan mendasar mengenai Kekristen oleh pemimpin agama biasanya Pendeta atau Pastor),” ujarnya.
Merasa sudah didogma dengan optimal maka Tere merasa punya tanggung jawab mengembalikan ‘domba-domba’ yang hilang.