“Sehingga pimpinan Polri yang akan datang, itu harus mampu meneggakan hukum tapi humanis dan bijak serta mampu berkomunikasi dengan DPR, dengan juga instansi samping,” jelas Ito.
Ito menambahkan, calon Kapolri yang diprioritaskan tersebut tentunya merupakan sosok yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik.
“Di sini yang akan diprioritaskan (untuk jadi Kapolri) adalah bagaimana kemampuan berkomunikasi. Kalau calon Kapolri yang akan datang tidak punya kemampuan berkomunikasi yang baik, mungkin akan menyulitkan dalam memimpi Polri ke depan,” tandasnya.
Bursa calon Kapolri
Beberapa waktu lalu bursa calon Kapolri diperkirakan seru, jenderal bintang dua atau Irjen diduga bakal peluang ikut bursa calon Kapolri.
Hal ini seiring dengan peluang pengisian jabatan Kepala BNN. Malahan spekulasi Kapolda Metro Irjen Fadil Imran bakal masuk bursa pun muncul.
Namun ternyata peluang jenderal bintang dua jadi calon Kapolri pupus setelah Kepala BNN dijabat oleh Irjen Petrus Golose.
Menurut analisis Indonesia Police Watch, Irjen Petrus merupakan jenderal Polri yang netral tidak masuk kubu gerbong kekuatan bursa calon Kapolri. Makanya dari sini peluang jenderal bintang dua masuk dalam bursa pengganti Jenderal Idham Azis tertutup sudah.
Sejauh ini, ada 14 jenderal bintang tiga di Polri, termasuk Wakapolri Gatot Edi, Kabareskrim Sigit Listyo Prabowo, Kabaharkam Agus Andrianto, dan Kepala BNPT Boy Rafli. Keempat jenderal bintang tiga itu diperkirakan calon populer pengganti Jenderal Idham Azis.
Praktis, bursa calon Kapolri kini cuma direbutkan oleh jenderal bintang tiga alias Komjen.