"Ada beberapa hal titik persamaan, saya senang sekali dengan gerakan amar maruf nahi munkar (menegakkan kebenaran dan mencegah keburukan)" tuturnya.
Selama ini, ia melihat ada orang-orang yang semangat dalam amar maruf, seperti mengajak salawat hingga berdzikir.
Namun, ketika melihat ada perbuatan maksiat justru diam. Menurut UAS, hal itu dikarenakan amar maruf nahi munkar berkaitan dengan kepentingan orang banyak.
UAS melihat sosok Rizieq berbeda dengan orang kebanyakan. Bahkan, rasa simpati itu muncul jauh sebelum dinamika Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu.
"Keberanian itu bagi saya sesuatu yang menantang. Saya senang," kata UAS.