Secuil Kisah Batik Riau, Bahan Baku Sulit, Dipasok dari Pekalongan

Rani mengatakan bahan baku batik di Riau umumnya masih dipasok dari Jawa.

Eko Faizin
Jum'at, 02 Oktober 2020 | 17:38 WIB
Secuil Kisah Batik Riau, Bahan Baku Sulit, Dipasok dari Pekalongan
Penjaga butik menunjukan variasi kain Batik Tabir Riau.. [Suara.com/Satria Kurnia]

SuaraRiau.id - Sulitnya mendapatkan bahan baku membuat pengrajin batik di Riau menjadi sulit berkembang.

Di Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober tersebut owner Galeri Batik Tabir Riau, Rani Izzul Makarimi mengisahkan usahanya.

Rani mengatakan bahan baku batik di Riau umumnya masih dipasok dari Jawa. Oleh sebab itu, untuk mengakali persoalan tersebut pengrajin batik memilih memproduksi langsung di Pulau Jawa.

"Jadi disini untuk penjualan, desain dan produksinya di Pekalongan," sebutnya kepada Suara.com melalui sambungan seluler, Jumat (2/10/2020) .

Menurut Rani, jika produksi tetap dipaksakan di Riau, maka hal itu akan berimbas pada tarif produk yang dipasarkan. Ia merincikan beberapa bahan baku yang harus didatangkan dari Jawa, seperti kain Mori.

Meski Batik Riau diproduksi di Jawa, hal tersebut bukan kabar buruk bagi motif batik asli Riau, Pucuk Rebung. Jelas Rani, motif Pucuk Rebung tetap dia pertahankan sebagai unsur identitas Riau.

Terlebih, sebagai motif asli, corak tersebut memang punya nilai sendiri.

"Motif Pucuk Rebung ditempat lain gak ada, mungkin yang mirip ada. Tapi perlu diketahui setiap motif ada filosofinya, jadi sudah ada pakem soal itu," tekannya.

Adapun harga yang ditawarkan di Galeri Batik Tabir Riau bervariasi, dari harga Rp 400 ribu hingga Rp1 juta. Besaran harga tersebut tergantung tingkat kesulitan pengerjaan dan bahan.

Disinggung mengenai ancaman batik pabrikasi, Rani menyebut hal tersebut tergantung bagaimana memaknai batik itu sendiri. Bagi Rani batik printing (cetak) tidak bisa disebut sebagai batik.

"Batik itu kan produk seni ya. Bagi saya, batik printing itu tidak bisa disebut batik, sebab tidak melalui proses pelilinan," imbuhnya.

Alih-alih memikirkan ancaman dari batik pabrikan, Rani memilih fokus mempertahankan bisnis di era Covid-19. Menurutnya pandemi virus tersebut berdampak terhadap penjualan batik.

Rani sendiri mengaku telah menutup dua gerai di dua hotel akibat pandemi Covid-19 terus meningkat di Pekanbaru.

"Terpaksa kita tutup karena memang mobilitas orang-orang berkurang lantaran Covid-19. Nah, tamu-tamu hotel yang dari luar kota biasanya akan membeli batik di hotel-hotel. Konsumen seperti itu berkurang lantaran pandemi. Jadi kita tutup," terangnya.

Kontributor: Satria Kurnia

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini