- AJI Pekanbaru, PILI, dan Green for Riau Initiative menggelar workshop penguatan kapasitas homeless media di Riau.
- Kegiatan tersebut bertujuan menyampaikan pesan pencegahan kebakaran hutan, perubahan iklim, dan peluang ekonomi karbon melalui media digital.
- Peserta workshop dibekali materi pembuatan konten menarik, penerapan kode etik, serta strategi pencegahan penyebaran berita bohong.
Menurutnya, informasi mengenai pelestarian lingkungan memiliki peluang besar untuk menjangkau audiens internasional.
Karena itu, kegiatan tersebut juga diharapkan memperkuat jejaring kolaboratif sekaligus menghasilkan produk konten yang mampu menggugah masyarakat agar lebih berhati-hati ketika membuka lahan maupun hutan.
Isu lingkungan dalam workshop juga dikaitkan dengan perkembangan ekonomi karbon.
Chairman Indonesia Carbon Trade Association, Riza Suarga, menjelaskan bahwa pengembangan ekonomi karbon tidak dapat dilepaskan dari ekosistem lanskap, peta jalan, serta regulasi yang jelas.
Menurut Riza, mekanisme pasar karbon pada dasarnya sederhana, yakni bagaimana upaya menjaga dan memperbaiki lingkungan dapat dimonetisasi.
Pesan ini bisa maksimal jika secara bersama digaungkan, terlebih menggunakan platform media sosial.
"Mitigasinya harus science based. Untuk Riau saya yakin banyak peluang," katanya.
Riza juga menyoroti besarnya peluang hutan adat dan hutan masyarakat menjaga kelestarian lingkungan.
Dalam workshop kali ini terdapat tiga materi Penting yang dipelajari Homeless media, yakni, Pengemasan konten agar menarik yang dipaparkan oleh Editor Suara.com, Eko Faizin.
Para peserta membahas posisi homeless media di tengah perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi.
Eko menjelaskan bahwa media arus utama kini menghadapi perubahan besar.
Sementara media konvensional memiliki struktur redaksi dan proses jurnalistik yang ketat, homeless media memiliki keunggulan berupa kedekatan dengan audiens.
Interaksi yang berlangsung langsung melalui media sosial membuat komunikasi antara pembuat konten dan masyarakat menjadi lebih dua arah. Kedekatan emosional dengan audiens pun dapat terbentuk lebih cepat.
Homeless media tidak serta-merta sama dengan media alternatif. Ada media yang memiliki struktur keredaksian lengkap tetapi memilih fokus pada isu tertentu.
Perubahan tersebut semakin relevan ketika masyarakat semakin terbiasa memperoleh informasi melalui perangkat digital.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- Urutan Pemakaian Air Mawar, Moisturizer, dan Sunscreen di Pagi Hari yang Tepat
- 15 Kode Redeem FF Terbaru 27 September 2026, Lengkap Trik Jitu Dapatkan Bundle Sasuke
- 9 Bedak Padat dan Tabur Terbaik di Indomaret di Bawah 50 Ribu
Pilihan
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
Terkini
-
Klaim Karhutla Sudah Lenyap, BPBD: Asap di Riau dari Provinsi Tetangga
-
Heboh Napi Bisa Pakai HP, Lapas Ujungtanjung Angkat Bicara
-
Siak Kembali Diselimuti Kabut Asap, Kualitas Udara Level Tidak Sehat
-
Agung Nugroho: Jangan Ada Lagi Warga Pekanbaru yang Tak Punya Rumah
-
Detik-detik Kelahiran Anak Gajah di Kawasan Konservasi TNTN