Eko Faizin
Sabtu, 15 Agustus 2026 | 20:16 WIB
Country Coordinator UNEP UN-REDD Programme Indonesia Bambang Arifatmi dalam sambutan sesi workshop di program Green for Riau Initiative. [Ist]
Baca 10 detik
  • AJI Pekanbaru, PILI, dan Green for Riau Initiative menggelar workshop penguatan kapasitas homeless media di Riau.
  • Kegiatan tersebut bertujuan menyampaikan pesan pencegahan kebakaran hutan, perubahan iklim, dan peluang ekonomi karbon melalui media digital.
  • Peserta workshop dibekali materi pembuatan konten menarik, penerapan kode etik, serta strategi pencegahan penyebaran berita bohong.

SuaraRiau.id - Isu lingkungan kini tidak lagi cukup dibicarakan di ruang-ruang formal. Pesan tentang pentingnya menjaga hutan, mencegah kebakaran lahan, dan menghadapi perubahan iklim.

Tak hanya itu, peluang ekonomi karbon perlu disampaikan dengan cara yang dekat dan mudah dipahami masyarakat.

Di tengah perubahan pola konsumsi informasi, homeless media dinilai memiliki peran penting untuk memperluas suara tersebut.

Pandangan itu mengemuka dalam workshop yang membahas isu lingkungan, perubahan iklim, perdagangan karbon, serta penguatan kapasitas homeless media di Riau.

Kegiatan tersebut digelar atas kerja sama AJI Pekanbaru, PILI dan Green for Riau Initiative.

Ini merupakan bagian dari rangkaian upaya membangun jejaring kolaborasi dan mendorong lahirnya konten lingkungan yang menarik, informatif, sekaligus berdampak.

Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Riau, Abdul Madian, mengatakan kondisi cuaca yang sangat panas belakangan ini perlu menjadi perhatian bersama.

Cuaca ekstrem meningkatkan risiko terjadinya kebakaran, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut.

Ia berharap para pegiat homeless media dapat membantu menyampaikan pesan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kepada masyarakat.

"Jangan membakar, karena gambut sangat sulit dipadamkan. Petugas yang melakukan pemadaman juga memiliki risiko," ujarnya.

Hasil workshop diharapkan dapat diterjemahkan menjadi komunikasi publik yang mampu mengajak masyarakat menjaga alam dan menghindari praktik pembakaran lahan.

Sementara, Country Coordinator UNEP UN-REDD Programme Indonesia Bambang Arifatmi dalam sambutan sesi Workshop mengungkapkan jika Riau saat ini tengah mengedepankan kampanye isu lingkungan dalam bentuk program Green for Riau Initiative.

Lebih dari sekadar memahami konsep lingkungan dan perdagangan karbon, peserta workshop didorong memiliki kemampuan mengemas isu tersebut menjadi cerita yang menarik.

Harapannya sederhana, isu lingkungan tidak berhenti menjadi dokumen, data, atau pembahasan di ruang seminar, tetapi dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas melalui berbagai platform digital.

"Kita harapkan teman-teman homeless media memahami isu lingkungan, perdagangan karbon dan sebagainya, sehingga meningkatkan keterampilan mengolah cerita-cerita konten yang menarik dan informatif," kata Bambang.

Menurutnya, informasi mengenai pelestarian lingkungan memiliki peluang besar untuk menjangkau audiens internasional.

Karena itu, kegiatan tersebut juga diharapkan memperkuat jejaring kolaboratif sekaligus menghasilkan produk konten yang mampu menggugah masyarakat agar lebih berhati-hati ketika membuka lahan maupun hutan.

Isu lingkungan dalam workshop juga dikaitkan dengan perkembangan ekonomi karbon.

Chairman Indonesia Carbon Trade Association, Riza Suarga, menjelaskan bahwa pengembangan ekonomi karbon tidak dapat dilepaskan dari ekosistem lanskap, peta jalan, serta regulasi yang jelas.

Menurut Riza, mekanisme pasar karbon pada dasarnya sederhana, yakni bagaimana upaya menjaga dan memperbaiki lingkungan dapat dimonetisasi.

Pesan ini bisa maksimal jika secara bersama digaungkan, terlebih menggunakan platform media sosial.

"Mitigasinya harus science based. Untuk Riau saya yakin banyak peluang," katanya.

Riza juga menyoroti besarnya peluang hutan adat dan hutan masyarakat menjaga kelestarian lingkungan.

Dalam workshop kali ini terdapat tiga materi Penting yang dipelajari Homeless media, yakni, Pengemasan konten agar menarik yang dipaparkan oleh Editor Suara.com, Eko Faizin.

Para peserta membahas posisi homeless media di tengah perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi.

Eko menjelaskan bahwa media arus utama kini menghadapi perubahan besar.

Sementara media konvensional memiliki struktur redaksi dan proses jurnalistik yang ketat, homeless media memiliki keunggulan berupa kedekatan dengan audiens.

Interaksi yang berlangsung langsung melalui media sosial membuat komunikasi antara pembuat konten dan masyarakat menjadi lebih dua arah. Kedekatan emosional dengan audiens pun dapat terbentuk lebih cepat.

Homeless media tidak serta-merta sama dengan media alternatif. Ada media yang memiliki struktur keredaksian lengkap tetapi memilih fokus pada isu tertentu.

Perubahan tersebut semakin relevan ketika masyarakat semakin terbiasa memperoleh informasi melalui perangkat digital.

Karena itu, pengelola homeless media perlu memahami siapa audiensnya, memilih platform yang tepat, mengikuti perkembangan informasi, konsisten memproduksi konten, serta memperluas jaringan melalui kolaborasi dan komunitas.

Workshop juga menyajikan materi penulisan konten dan kode etik jurnalistik yang disampaikan Pemimpin Redaksi Riau Pos, Firman Agus.

Firman lebih menekankan pentingnya penerapan kode etik dalam penyajian setiap konten homeless media, kendati tidak termasuk kategori produk Jurnalistik.

"Ini dilakukan agar meminimalisir terjadinya pelanggaran pidana, karena produk homeless media tidak dilindungi UU Pers, dan bukan sengketa pers," ujarnya.

Yang tak kalah penting, peserta juga dibekali pembahasan mengenai antisipasi penyebarluasan miss informasi atau hoaks.

Materi ini disampaikan langsung oleh Fakta Checker Tempo, Winahyu Dwi Utama.

"Memastikan keaslian informasi akan menekan terjadinya misinformasi, dan menghentikan penyebaran berita bohong", sebut Uut, saapaan akrab Winahyu.

Load More