Eko Faizin
Sabtu, 20 Juni 2026 | 11:15 WIB
Gubernur Riau, Abdul Wahid dan Ustaz Abdul Somad (UAS). [IG/@ustadzabdulsomad_official]
Baca 10 detik
  • Ustaz Abdul Somad memberikan kesaksian meringankan bagi Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid di Pengadilan Negeri Pekanbaru, Kamis (18/6/2026).
  • Saksi mengungkapkan kedekatan personal serta dukungan total yang ia berikan kepada Abdul Wahid sejak masa kampanye hingga menjabat.
  • Kehadiran Ustaz Abdul Somad sebagai komitmen moral memicu suasana haru dan emosional bagi terdakwa serta pengunjung ruang persidangan.

SuaraRiau.id - Suasana haru dan penuh air mata sempat mewarnai sidang dugaan korupsi yang menjerat Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid di Pengadilan Negeri Pekanbaru, Kamis (18/6/2026).

Momen emosional itu terjadi saat Ustaz Abdul Somad (UAS) memberikan kesaksian sebagai saksi meringankan dan menyampaikan pesan langsung kepada Abdul Wahid di hadapan majelis hakim.

Sidang yang sejak awal berlangsung serius mendadak berubah hening ketika UAS mengungkapkan kedekatannya dengan Abdul Wahid dan alasan dirinya rela hadir memberikan kesaksian di pengadilan.

UAS menyalami kuasa hukum Abdul Wahid usai menjadi saksi a de charge di Pengadilan Tipikor pada PN Pekanbaru.(Suara.com/ Rahmat Zikri)

"Seumur-umur baru kali ini saya bersaksi di pengadilan, dan ini untuk Abdul Wahid," ujar UAS.

Pendakwah kondang itu mengaku telah mendukung Abdul Wahid sejak maju sebagai calon anggota DPR RI hingga terpilih sebagai Gubernur Riau.

Menurutnya, dukungan yang diberikan bahkan melebihi apa yang pernah ia lakukan untuk keluarga kandungnya sendiri.

"Saya tidak pernah membela saudara kandung saya seperti membela Abdul Wahid. Saat menjadi calon DPR RI, saya mengampanyekannya dari darat sampai ke sungai," katanya.

"Saat menjadi gubernur, saya mengampanyekannya dari pagi, siang, sore hingga malam. Tak mandi sore, tak makan malam, saya keliling 12 kabupaten dan kota," tuturnya.

UAS juga mengenang saat dirinya menjenguk Abdul Wahid ketika menjalani pemeriksaan di rumah tahanan KPK.

Baginya, kehadiran di ruang sidang tersebut menjadi bagian dari komitmen moral yang selama ini ia pegang.

Puncak suasana haru terjadi ketika UAS memberikan nasihat kepada Abdul Wahid terkait ujian hukum yang sedang dihadapinya.

Ia mengibaratkan cobaan tersebut seperti seseorang yang sedang menjalani ibadah puasa.

"Ujian ini seperti puasa, Abdul Wahid. Sampai masanya matahari tenggelam, akan terdengar juga azan Magrib. Mulut muazin bisa ditahan untuk tidak menyuarakan azan, tetapi rona merah di ufuk barat akan tetap menyala menunjukkan Magrib tiba," kata UAS.

Kalimat demi kalimat yang disampaikan UAS membuat suasana ruang sidang semakin emosional.

Kemudian, dengan suara yang terdengar bergetar, UAS menyampaikan kalimat yang membuat ruang sidang seketika hening.

Load More