- Pemkab Siak akhirnya buka suara mengenai polemik pengadaan seragam sekolah gratis.
- Program seragam gratis merupakan salah satu janji kampanye Afni Zulkifli dan Syamsurizal.
- Dalam janjinya, proyek seragam sekolah gratis bakal melibatkan UMKM lokal untuk menjahit.
SuaraRiau.id - Siswa SD dan SMP negeri di Kabupaten Siak tak lama lagi akan mendapatkan seragam sekolah gratis dari pemerintah setempat.
Bantuan seragam sekolah gratis merupakan salah satu program unggulan janji kampanye pasangan Bupati-Wakil Bupati Siak, Afni Zulkifli dan Syamsurizal.
Di sisi lain, program tersebut menuai polemik lantaran proses pengadaan batal melibatkan UMKM lokal yakni penjahit setempat. Hal itu tentu saja berbeda dari janji kampanye politik Afni dan Syamsurizal yang kini memimpin Siak.
Saat kampanye, pasangan Bupati dan Wakil Bupati Siak itu menjanjikan Afni pengadaan baju seragam sekolah gratis langsung dibuat oleh UMKM Siak guna mendorong kebangkitan ekonomi.
Nyatanya, empat item baju seragam sekolah gratis tingkat SD dan SMP di Siak itu dikerjakan oleh perusahan luar Riau.
Dalam E Katalog 6.0 pengadaan barang dan jasa pakaian seragam sekolah gratis itu dimenangkan CV Kreasi Tiga Saudara. Pihak ini membuat seragam pramuka untuk SD dengan nilai kontrak Rp1.761.143.653.
Kemudian PT Emka Naratama Putra menjahit seragam SD Merah Putih dengan nilai kontrak Rp1.604.231.802.
Lalu, PT Trisolah Parahiyangan Indonesia membuat pakaian seragam putih-biru SMP dengan nilai kontrak Rp1.615.210.497. Perusahaan ini juga mendapat tender seragam pramuka SMP oleh PT Trisolah dengan nilai kontrak Rp2.086.890.025.
Kepala Dinas Pendidikan Siak, Romy Lesmana Dermawan, mengungkapkan alasan UMKM lokal tak jadi mendapatkan proyek bernilai Rp7 miliar lebih tersebut.
Menurutnya, pengadaan program seragam sekolah gratis tetap mengacu pada aturan penggunaan anggaran pemerintah.
"Sudah dijelaskan berkali-kali. Segala sesuatu yang menggunakan uang rakyat (APBD) harus dilaksanakan sesuai aturan dan ketentuan undang-undang. Bagi kami pribadi, pelibatan UMKM adalah keinginan sejak awal, namun jika melanggar hukum tentu tidak mungkin dilakukan," kata Romy, Rabu (22/4/2026).
Romy mencontohkan saat pengadaan melalui Baznas Siak, Pemkab melibatkan penjahit lokal. Ia menyebut lebih dari UMKM terlibat dalam produksi lebih dari 1.000 pasang seragam karena mekanisme yang lebih fleksibel.
Namun, jelas Romy, untuk pengadaan dalam jumlah besar yakni sekitar 24 ribu pasang seragam, prosesnya harus melalui sistem e-catalog guna menjamin ketepatan waktu dan kepatuhan terhadap regulasi.
"UMKM Siak akhirnya memilih mundur karena harga yang ditawarkan tidak kompetitif," ujar Kepala Dinas.
Romy menyebut, penjahit lokal belum siap secara administrasi, seperti belum memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Dari ratusan penjahit hanya satu yang sudah memiliki NIB.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
- Tak Terima Dideportasi, WNA Cina di Sumsel Bongkar Dugaan Kejanggalan Proses Imigrasi
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- 5 Rekomendasi HP All Rounder 2026, Spek Canggih, Harga Mulai 2 Jutaan
Pilihan
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
Terkini
-
Alasan UMKM Lokal Siak Batal Dilibatkan di Proyek Seragam Gratis Rp7 Miliar
-
Batal Dapat Proyek Seragam Gratis, Penjahit di Siak: Janji Cuma Harapan Palsu
-
Tabrakan Minibus vs Truk di Tol Pekanbaru-Dumai, Dua Meninggal
-
Sempat Duel, Pria di Siak Dibacok Maling saat Pergoki Pencurian Kantor Desa
-
BRI Hadirkan Money Changer di Motaain, Nusa Tenggara Timur: Dorong Ekonomi Perbatasan