- Penjahit lokal di Siak mengungkapkan kecewaan perihal proyek seragam sekolah.
- Awalnya, pengadaan seragam sekolah gratis bakal melibatkan UMKM-UMKM lokal.
- Penjahit menilai, Pemkab lambat sosialisasi proyek seragam bernilai Rp7 miliar itu.
SuaraRiau.id - Febri salah satu penjahit lokal Kabupaten Siak yang tak dapat menyembunyikan raut muka sedihnya saat ditemui di tempat usahanya yang berukuran 3x4 meter persegi, Rabu (22/4/2026).
Kesedihan itu terpancar saat yang diharapkan mendapat orderan 'proyek' Rp7 miliar menjahit baju seragam sekolah dari Pemkab Siak sudah pupus.
Dia bercerita, janji-janji Pemkab yang akan membangkitkan ekonomi UMKM lokal itu tidak sesuai harapan.
"Tidak hanya saya, banyak lagi teman-teman penjahit lokal yang kecewa. Kami hanya makan janji ke depan dan ke depan, saat realisasi pasti berbeda," kata Febri kepada Suara.com.
Kekecewaan sebagai pejahit lokal memuncak saat Pemerintah Siak lebih memilih vendor luar Riau dalam proyek pengadaan seragam sekolah gratis.
"Janji itu hanya untuk menenang-nenangkan saja. Aslinya cuma harapan palsu," ungkapnya.
Febri menilai, Pemkab lambat mensosialisasikan langkah-langkah yang harus dilakukan penjahit lokal terkait bagaimana agar bisa dapat proyek mengerjakan baju seragam sekolah.
"Kami ini perlu juga dibimbing, dibina, diberitahu informasi yang akurat. Bukan tiba-tiba kami disebut tidak ada NIB tidak ada ini, tidak bisa begitu, tidak bisa begini, regulasinya begini begitu," sebutnya.
"Seharusnya pemerintah menyiapkan skemanya bagaimana caranya, carikan solusi yang berpihak kepada penjahit lokal. Bukan tiba-tiba malah kami yang dianggap tidak siap. Intinya, kami ini tidak disiapkan, bukan tidak siap," sambung Febri.
Dia juga menganggap Pemkab Siak benar-benar tidak berpihak kepada penjahit lokal.
Febri mencontohkan, misalnya satu orang penjahit lokal dapat menjahit 200-500 pasang seragam sekolah. Tentunya perputaran ekonomi juga bergerak dan tumbuh.
"Kami tentunya belanja di toko sekitar, uangnya pun akan berputar di Siak. Ini kan enggak, yang dapat di luar Siak, malahan luar Riau, artinya uang tidak berputar di Siak melainkan di luar Siak," bebernya.
Febri mengaku sempat didata oleh RT selaku penjahit lokal agar mendapatkan orderan menjahit baju seragam sekolah.
Namun, hingga saat ini belum ada terealisasi hingga mengetahui bahwa seluruh seragam itu dikerjakan oleh perusahaan tanpa melibatkan UMKM.
"Kami disebut-sebut tidak sanggup, padahal hanya persoalan harga yang disamakan dengan pabrikan. Tentu tidak bisa sama antara penjahit UMKM dengan pabrikan," tutur Febri.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- 5 Sabun Mandi Vitamin C Terbaik untuk Mencerahkan Kulit Belang, Lengkap dengan Review Pengguna
- Daftar Shio yang Paling Tidak Cocok dengan Shio Macan dalam Bisnis dan Asmara
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Gubernur Sulsel Telepon Langsung Pemilik SPBU
Pilihan
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
Terkini
-
Pejabat Desa di Bengkalis Jual Hutan Cagar Biosfer UNESCO Senilai Rp2 Miliar
-
Bubur Cirebon Jadi Jalan Sukses Tati Purwanti, Mantan PMI yang Kini Berbisnis di Taipei
-
Bakar Hutan untuk Lahan Kebun Sawit, Warga di Bengkalis Jadi Tersangka
-
3.028 Warga Pekanbaru Terjangkit ISPA Akibat Kabut Asap Karhutla
-
Karhutla Siak Capai 273 Hektare, Keterbatasan Anggaran Jadi Tantangan