Eko Faizin
Kamis, 23 April 2026 | 21:53 WIB
Ilustrasi seragam sekolah gratis. [Antara]
Baca 10 detik
  • Penjahit lokal di Siak mengungkapkan kecewaan perihal proyek seragam sekolah.
  • Awalnya, pengadaan seragam sekolah gratis bakal melibatkan UMKM-UMKM lokal.
  • Penjahit menilai, Pemkab lambat sosialisasi proyek seragam bernilai Rp7 miliar itu.

"Dimana mana dan dalam soal apapun harga custom pasti lebih mahal. Sebab ada tanggung jawab," tambah dia.

Pejahit lokal, kata Febri, harus datang ke sekolah mendata ukuran hingga bemar benar sesuai dan nyaman dipakai oleh siswa dan siswi.

"Dari proses itu saja tentukan sudah berbeda, bisa jadi kalau pabrikan hanya dibagi berbagai ukuran kemudian dibagikan. Pelaksanaan dan tanggung jawabnya pasti berbeda," tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Siak, Romi Lesama mengatakan, pengadaan seragam gratis untuk siswa SD dan SMP sepenuhnya dilaksanakan oleh pemenang.

"Kami sudah tawarkan ke UMKM Siak namun tak tercapai kesepakan antara penyedia kepada UMKM Siak," katanya, Selasa (21/4/2026).

Tidak bertemunya kesepakatan antara penyedia (pemenang lelang) dengan UMKM Siak terhadap upah pengerjaannya.

"Ternyata upahnya tidak cocok, di HPS (harga perkiraan sendiri) upah Rp45.000 namun UMKM di Siak minta upah Rp 100.000 dalam setiap pasangnya. Sudah dilakukan rapat tetapi tetap tidak mencapai kesepakatan," sebut Romi.

Selain itu, secara aturan, pada pekerjaan sebenarnya tidak dibolehkan untuk di-sub-kan lagi. Sebab, pekerjaan pokok harus dikerjakan oleh penyedia.

Romi menyampaikan, penyedia juga menawarkan agar para penjahit lokal untuk menjahit dasi, kacu dan lain lain. Namun, itu ditolak UMKM lokal lantaran meminta supaya mendapatkan menjahit yang pokok (seragam).

Kendati demikian, dia optimis bahwa untuk kedepannya menjahit pakaian seragam sekolah gratis ini bisa dilakukan oleh UMKM lokal.

"Mungkin tahun depan diupayakan bisa ikut mengerjakan," ujarnya.

Kontributor : Alfat Handri

Load More