Eko Faizin
Minggu, 13 September 2026 | 11:55 WIB
Gajah sumatera di wilayah lanskap Cot Girek, Aceh Utara. [Dok PHE NSO]
Baca 10 detik
  • Pertamina Hulu Energi NSO dan LPLHa meluncurkan program konservasi dan restorasi lahan kritis di Aceh Utara sejak tahun 2023.
  • Pihak terkait meresmikan Biodiversity Camp Center pada Agustus lalu guna memperkuat mitigasi konflik manusia dan gajah.
  • Kolaborasi bersama pemerintah daerah dan masyarakat lokal bertujuan memulihkan ekosistem serta menjaga ruang jelajah satwa liar.

SuaraRiau.id - Gajah sumatera yang dahulu leluasa menyusuri lanskap Cot Girek, Aceh Utara, kini menghadapi tantangan semakin terbatasnya ruang jelajah.

Menyempitnya kawasan hutan membuat habitat, jalur pergerakan, serta ruang mencari pakan gajah semakin beririsan dengan aktivitas masyarakat.

Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak untuk memperkuat upaya konservasi sekaligus mengurangi potensi konflik antara manusia dan satwa liar.

Pertamina Hulu Energi North Sumatra Offshore (PHE NSO) turut mengambil bagian melalui program berkelanjutan bersama Lembaga Pembelaan Lingkungan Hidup dan Hak Asasi Manusia (LPLHa).

Pertamina fokus pada mitigasi konflik manusia dan satwa liar, pengembangan Biodiversity Camp Center, serta restorasi lahan kritis di Gampong Peureupok, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara.

Program tersebut merupakan bagian dari upaya bersama untuk memulihkan ekosistem dan menjaga keanekaragaman hayati di lanskap Cot Girek, termasuk mendukung keberlangsungan ruang jelajah gajah.

Selain kegiatan restorasi, para pihak juga telah menyusun peta jalan penyelesaian konflik manusia dan gajah sebagai acuan dalam pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.

PHE NSO bersama para pemangku kepentingan juga telah meresmikan Biodiversity Camp Center pada akhir agustus lalu.

Hal tersebut sebagai upaya memperkuat edukasi, pemantauan, serta kolaborasi konservasi di kawasan itu.

Program ini melibatkan Pemkab Aceh Utara, LPLHa, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), serta masyarakat di sekitar kawasan.

"Aspek kolaborasi sangat penting dalam upaya melakukan restorasi dan menjaga hutan. Masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan hutan juga memiliki peran penting dalam memastikan perlindungan lingkungan," ujar Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Aceh Utara, M Nasir pada saat meresmikan Biodiversity Camp Center Agustus yang lalu di Gampong Peurupok, Kecamatan Paya Bakong.

Menurutnya, kawasan hutan tidak hanya menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna. Akan tetapi juga merupakan bagian dari ruang kehidupan masyarakat.

"Kawasan ini bukan sekadar menjadi habitat berbagai satwa seperti gajah dan tumbuhan, tetapi juga ruang kehidupan masyarakat di lokasi. Karena itu, keseimbangan harus dijaga bersama," ujar M Nasir.

PHE NSO bersama LPLHa telah menginisiasi program tersebut sejak 2023. Berbagai kegiatan telah dilakukan, antara lain patroli dan mitigasi konflik manusia dengan satwa liar.

Lalu, pengembangan Biodiversity Camp Center, serta kegiatan restorasi melalui penanaman pohon dengan melibatkan masyarakat dan petani lokal.

Load More