Scroll untuk membaca artikel
Eliza Gusmeri
Jum'at, 19 November 2021 | 15:37 WIB
Bangunan pendopo yang merupakan tempat berkumpul dan bermusyawarah masyarakat adat Sakai terletak di kawasan hutan adat, Desa Kesumbo Ampai, Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis.[Suara.com/Panji Ahmad Syuhada]

Mereka adalah salah satu suku asli Riau yang telah menduduki bumi lancang kuning ratusan tahun lalu. Sumber sejarah menyebut, bahwa orang Sakai merupakan Proto Melayu atau Melayu tua.

Orang Sakai, sebagian besar saat ini tinggal di wilayah Kabupaten Bengkalis. Mereka terdiri dari beberapa kelompok masyarakat atau perbathinan yang menjadi wilayah kekuasaan adat. Dari setiap perbathinan, ada seorang bathin atau kepala suku yang dipercaya mengurusi soal tata wilayah hingga norma-norma. Lazimnya, seorang bathin merupakan keturunan dari bathin-bathin yang terdahulu.

Dalam mendukung kebangkitan Sakai yang berdaya era kini, perusahaan migas PT Pertamina Hulu Rokan juga turut serta. Di antaranya seperti pemberdayaan Kelompok Pertanian Terpadu Masyarakat Sakai Pematang Pudu, Bank Sampah Bathin Solapan, bantuan peralatan sekolah hingga inkubator karir bagi mahasiswa Sakai.

Di kelompok pertanian dan bank sampah yang dibina, masyarakat suku Sakai mendominasi. Mereka yang awalnya minim pengetahuan dan kemampuan, diberdayakan sehingga maju dan berkembang.

Baca Juga: Pasca Gigit Seorang Polisi, Hong Kong Mulai Kurangi Populasi Babi Hutan

Seperti dari Kelompok Pertanian Terpadu Sakai misalnya, Mus Mulyadi (45), ketua kelompok mengaku bersyukur mendapatkan pembinaan dan pemberdayaan. Sebab sebelumnya, cara bertani konvensional yang diterapkan warga Sakai, kini jauh berubah dan semakin produktif.

Mus bercerita, bahwa selain modal usaha, warga Sakai yang tergabung dalam kelompok pertanian terpadu juga diberikan ilmu yang mumpuni, mulai dari pelatihan manajemen hingga praktek lapangan. Umumnya, masyarakat yang diambil untuk bergabung dalam kelompok tani binaan Pertamina yaitu warga kurang mampu, pemuda Sakai yang pengangguran hingga yang putus sekolah.

"Jadi nilai positifnya bagi sakai, kami mengenal cara tani yang menetap, merawat ikan dan berternak yang benar. Berkat pembinaan ini, kemandirian itu muncul sampai sekarang," kata Mus.

Dalam menjaga hutan sendiri, mereka sadar bahwa peran serta berbagai pihak turut menopang keseimbangan ekosistem dan kearifan lokal yang ada. Sehingga, dengan saling bersinergi, masyarakat Sakai tentu saling menopang dan mendukung aktivitas eksplorasi migas untuk negara.

Belum lama ini, Direktur Utama PT Pertamina Hulu Rokan, Jaffe A Suardin datang langsung ke rumah adat suku Sakai di Desa Kesumbo Ampai. Bersama Bupati Bengkalis Kasmarni, dia juga melihat dan melintasi kawasan hutan adat tersebut.

Baca Juga: Indonesia Disebut Pemilik Lahan Mangrove Terbesar Dunia, Berapa Sih Luasnya?

Di sana, para petinggi ini disambut bak raja. Prosesi adat upah-upah juga dilakukan para kepala Perbatinan Sakai, termasuk kepala Bathin Sobanga Muhammad Nasir, Kamis 26 Agustus 2021.

Load More