Sanksi-sanksi tersebut dilakukan atas musyawarah dan mufakat para tetua adat suku Sakai. Mulai dari sanksi sosial hingga sanksi hukuman lainnya. Hal ini menurut Nasir, demi menjaga kedaulatan hutan adat hampir terkikis habis.
Habitat flora dan fauna langka
Sejak zaman leluhur Sakai dahulu, hutan dan sungai telah memberikan penghidupan. Masyarakat Sakai, masih memanfaatkan hutan sebagai sumber harapan. Namun kini, tergerus oleh zaman dan kemajuan, hutan yang dulu luasnya tak terkira tempat mereka bergantung hidup, kini nyaris redup.
Upaya-upaya dalam mempertahankan hutan yang jadi simbol masyarakat sakai terus dilakukan. Misal, seperti mengedukasi ke anak cucu, membuat plang larangan di hutan, hingga membuat warkah demi menjaganya tetap berdaulat.
Di hutan ini, flora dan fauna langka masih ada, jumlahnya tentu tak terkira. Mulai dari rempah, tanaman obat-obatan herbal, hingga satwa-satwa yang jarang ditemui sekalipun. Seperti rusa dan burung-burung langka.
Mereka mengenal banyak rempah yang dimanfaatkan sebagai kebutuhan hidup, mulai dari asam kandis, bawang putih kulip, jahe, serai, kunyit, asam komang hingga damar dan kayu manis. Rempah hasil alam tersebut sering dijadikan sebagai bahan pengobatan hingga bumbu masakan.
Bahkan makanan khas suku Sakai sendiri merupakan dari hasil hutan, ubi mangalo, sejenis ubi racun yang diolah menjadi sumber makanan.
Kemudian, panganan hasil alam lain dari hutan yaitu taeh atau sejenis mangga tapi asam, lalu kedumpa atau rambutan hutan, idat, puih, pelasa, tampui, dan ada buah yang pohonnya akar, biasa masyarakat Sakai menyebutnya otol. Tumbuhan tradisional ini sebagian besar merupakan jenis rempah, ada juga yang tidak. Namun semua dapat dimanfaatkan masyarakat Sakai menjadi berguna.
Masyarakat suku Sakai dalam tradisinya hingga kini juga masih menggunakan metode pengobatan dan ramuan tradisional. Aspek-aspek alam dimanfaatkan sebagai pendukung keberadaan kelompok masyarakat ini.
Baca Juga: Pasca Gigit Seorang Polisi, Hong Kong Mulai Kurangi Populasi Babi Hutan
"Banyak sekali yang bisa kita manfaatkan dari hutan, Sakai memang identik dengan keberadaan hutan, dulu sumber kehidupan ya dari hutan dan sungai," kata Nasir.
Nasir mengaku, dalam menjaga kawasan hutan yang tersisa ini, kolaborasi berbagai elemen dan dibantu perhatian perusahaan migas untuk memberdayakan masyarakat Sakai. Banyak program yang dilimpahkan, seperti pemberdayaan petani, hingga program beasiswa dan kompetensi anak-anak Sakai.
Untuk itu juga, Nasir berharap, proses pengakuan hutan adat oleh negara dapat segera terealisasi. Sebab dengan demikian, hutan yang tersisa itu bisa tetap lestari.
Di sisi lain, tokoh Cendikiawan Sakai, Mohamad Agar Kalipke mengungkapkan, bahwa hutan merupakan apotek dan supermarket bagi suku Sakai.
"Hutan itu adalah supermarket dan apotek kita. Itu jelas dan tak perlu diterangkan lagi ya, karena dari hutan itu kita ada rempah-rempah, sayuran, umbian, rotan, palem, kluno atau ubi. Dulu kita itu tak kenal namanya beras, makanan pokoknya itu ubi," ungkapnya.
Berkisar 30 hingga 40 tahun ke belakang, lulusan magister sastra dan bahasa Universitas Hamburg ini mengungkapkan bahwa di hutan itu semuanya ada.
Berita Terkait
-
Di Balik Rimbun Hutan Cawang: Jerat Asusila, Tembok Beton, dan Ruang Publik yang Sekarat
-
Pramono Anung Ingin Pasang CCTV di Hutan Kota Cawang Usai Laporan Penyalahgunaan Fasilitas Publik
-
Terbongkar! Hutan Kota Cawang Jadi Sarang Aktivitas Asusila, Pemkot Gerebek dan Segel Lokasi
-
Keputusan Menteri tentang Hutan Papua Selatan Diprotes: Apa Dampaknya bagi Masyarakat Adat?
-
Bukan Sekadar Penanam: Wamen Veronica Tan Tegaskan Peran Strategis Perempuan dalam Tata Kelola Hutan
Terpopuler
- 4 Seri MacBook yang Harganya Terjun Bebas di Awal 2026, Mulai Rp8 Jutaan
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp20 Ribu Terdekat di Jakarta
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- Prabowo-Gibran Beri Penghormatan Terakhir di Pemakaman Try Sutrisno: Momen Khidmat di TMP Kalibata
Pilihan
-
Bukan Cuma Bupati! KPK Masih Kejar Sosok Penting Lain Terkait OTT Pekalongan
-
Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
-
Iran Bombardir Kantor Benjamin Netanyahu Pakai Rudal Hipersonik, Kondisinya Belum Diketahui
-
Istri Ayatollah Ali Khamenei Juga Gugur Sehari Setelah Sang Suami, Dibom Israel-AS
-
Istri Ali Khamenei Meninggal Dunia Akibat Luka Serangan AS-Israel ke Iran
Terkini
-
Jadwal Buka Puasa Pekanbaru dan Sekitarnya, Selasa 3 Maret 2026
-
Harga Sawit Riau Melonjak, Kenaikan Tertinggi pada TBS Umur 9 Tahun
-
Pembayaran THR Paling Lambat 8 Maret, Disnaker Pekanbaru: Tak Boleh Dicicil
-
Anak Gajah Mati di TNTN, Pemilik Lahan Sawit Jadi Tersangka
-
Kasus 'Jatah Preman' Gubernur Riau Abdul Wahid Segera Disidangkan