- Dinas Kesehatan Riau mencatat 11.523 kasus HIV sejak 1997 hingga Triwulan I-2026 dengan tren kenaikan yang signifikan.
- Virus HIV menular melalui cairan darah, hubungan seksual tidak aman, serta transmisi dari ibu kepada bayi kandungnya.
- Dinas Kesehatan Riau menerapkan strategi STOP untuk meningkatkan deteksi dini, pengobatan, serta edukasi terkait HIV.
SuaraRiau.id - Dinas Kesehatan Riau sejak tahun 1997 hingga Triwulan I-2026, mencatat kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan tren yang terus meningkat.
Berdasarkan data kumulatif yang dihimpun, ada sebanyak 11.523 Orang dengan HIV (ODHIV) di provinsi tersebut dari tahun ke tahun.
"Dari 11.523 ODHIV tersebut, kami mendata sebanyak 7.137 orang di antaranya masih hidup. Namun, sebanyak 4.524 orang di antaranya sudah masuk pada stadium AIDS," terang Pengelola Program HIV Dinas Kesehatan Riau, Egawati.
Dinas Kesehatan Riau memaparkan bahwa penularan virus HIV-AIDS ini terjadi melalui tiga transmisi utama dari penderita kepada orang lain.
Jalur penularan meliputi perpindahan melalui darah yang tertular virus HIV, penularan dari ibu ke bayi melalui plasenta selama masa kandungan atau saat melahirkan, serta melalui cairan kelamin akibat hubungan seksual yang tidak aman.
Egawati mengungkapkan, tercatat pada tahun 2021 ditemukan 570 kasus HIV-AIDS di Riau, lalu naik menjadi 835 kasus pada 2022, dan melonjak hingga 1.001 kasus pada 2023.
Tren ini terus merangkak naik dengan 1.006 kasus pada 2024, disusul 1.051 kasus pada 2025, dan pada Triwulan I-2026 ini sudah ditemukan lagi sebanyak 187 kasus baru.
Tren peningkatan kasus ini terlihat sangat signifikan, terutama dalam kurun waktu empat tahun terakhir.
"Guna menekan angka penularan, Dinas Kesehatan saat ini fokus mendorong kesadaran masyarakat untuk deteksi dini melalui strategi "STOP"," jelasnya.
Sejumlah program dilakukan Dinas Kesehatan Riau sebagai strategi penanggulangan HIV di Bumi Lancang Kuning.
Di antaranya, pilar penyuluhan yang gencar mengedukasi berbagai lapisan masyarakat, mulai dari mahasiswa, kader PKK, hingga instansi keagamaan.
Egawati menegaskan bahwa penanggulangan HIV di Riau tidak bisa bertumpu pada satu instansi saja, melainkan membutuhkan sinergitas dan dukungan dari seluruh lapisan sektor masyarakat.
Selain penyuluhan (Suluh), pihaknya menggelar program Temukan (pencarian kasus), Obati (pengobatan), dan Pertahankan kadar virus ODHIV agar tetap tersupresi.