Kemudian, Irwan juga menyampaikan kabar gembira lantaran harga penjualan gabah di petani mencapai Rp6.500 per kilogramnya.
“Harga tersebut lumayan tinggi, kita berharap dengan harga tersebut akan ada terjadinya peningkatan pada sentra-sentra produksi lainnya seperti di Sabak Auh, Sungai Mandau, Sungai Apit, Siak dan Pusako,” tuturnya.
Sementara itu, Bupati Siak Alfedri juga mengatakan persoalan air di persawahan menjadi permasalahan yang ditangani secara serius.
“Kita nih, luar biasa, pompanisasi yang dialokasikan anggarannya cukup besar di Bungaraya, termasuk prioritas nasional. Sistem pompa air sungai Siak kemudian dialirkan, baru ada hanya di Siak di Bungaraya ini. Tinggal bagaimana memaksimalkan fungsi dan operasionalnya. Sehingga harapan kita dari pompanisasi ini dari IP 200 menjadi IP 300,” jelas Alfedri saat panen raya padi di lahan sawah milik kelompok Tani Makmur, Dusun I Endah Darma, Kampung Bungaraya, Siak.
Disampaikan Alfedri, luas lahan tanam padi di Siak yaitu 8.078 hektare dengan produksinya mencapai 45.423,8 ton dalam bentuk gabah kering giling (gkg).
Sementara, untuk di Kecamatan Bungaraya sendiri memiliki luas lahan untuk tanam padi seluas 4.406,1 hektare.
Artinya, tambah Alfedri, luasan lahan siap tanam di Kecamatan Bungaraya seluas 54 persen dari jumlah luas tanam se-Siak dengan produksinya mencapai 26.864 ton atau 59 persen dari jumlah produksi kabupaten.
“Artinya, Kecamatan Bungaraya merupakan lumbung padi dan sentra penghasil padi terbesar di Kabupaten Siak. Persoalan kurangnya bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) saya minta di RPJMD tahun ini selesai, saya minta kadis pertanian menyiapkan matrik kecamatan dan kampung mana yang membutuhkan alsintan, kita bantu,” tutupnya.
Kontributor : Alfat Handri