Gerebek Wabup Rohil Sulaiman di Kamar Hotel, Polda Riau Bisa Digugat

Pakar psikologi forensik itu menyinggung penggerebekan terjadi saat Sulaiman sedang berada di dalam kamar hotel.

Eko Faizin
Jum'at, 02 Juni 2023 | 13:46 WIB
Gerebek Wabup Rohil Sulaiman di Kamar Hotel, Polda Riau Bisa Digugat
Sulaiman, Wakil Bupati Rokan Hilir. [Instagram/@sariekarahmi_official]

SuaraRiau.id - Peneliti ASA Indonesia Institute Reza Indragiri Amriel menyoroti kasus penggerebekan Wakil Bupati Rokan Hilir (Rohil) Sulaiman oleh Ditreskrimum Polda Riau yang terjadi pada Kamis (25/5/2023) di salah satu hotel di Pekanbaru.

Hal tersebut disampaikan Reza sembari mengingatkan netralitas Polri pada Pilpres 2024 untuk meyakinkan publik agar tidak ada anggota polisi yang bersekongkol dengan kubu politik mana pun.

Untuk itu, menurutnya Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo perlu mengeluarkan surat perintah tentang netralitas Polri pada Pilpres 2024.

"Kapolri Jenderal Listyo Sigit sudah seharusnya mengeluarkan perintah tentang netralitas Polri pada Pilpres 2024 untuk meyakinkan publik bahwa Polri tidak akan bersekongkol dengan kubu politik mana pun," ujar Reza dikutip dari Antara.

Pakar psikologi forensik itu menyinggung penggerebekan terjadi saat Sulaiman sedang berada di dalam kamar hotel bersama seorang wanita yang merupakan anak buahnya, seorang kepala bidang di Dispenda Rohil.

"Berduaannya memang parah. Tapi bagaimana memahami 'operasi rutin' dan 'operasi hunting'oleh polisi? Bukan operasi politik dalam kemasan penegakan hukum?" terang Reza.

Dalam kasus Wabup Rohil tersebut, Reza mempertanyakan langkah polisi akan membawa kasus tersebut ke persoalan hukum mana karena jika terkait perzinaan.

Hal itu merupakan delik aduan. Sementara istri Wabup Rohil tidak akan mempolisikan suaminya. Atau langkah kepolisian tersebut sekadar membuka aib warga yang notabene sekaligus kader partai politik.

"Tapi lumayanlah. Polisi sudah bantu masyarakat mengenal pemimpinnya lebih baik lagi,"ujar Reza.

Dia menyampaikan, sebaiknya polisi lebih cermat dalam bekerja, termasuk kecermatan dalam menjelaskan suatu kasus ke publik.

Tanpa penjelasan yang baik akan terkesan bahwa alih-alih bekerja secara profesional, polisi bekerja sesuai kepentingan politik praktis tertentu.

Reza mengingatkan agar otoritas penegak hukum jangan bermain api, apalagi dengan politik sehingga ada istilah double trouble untuk mengiaskan sifat merusak yang sedemikian parah ketiga polisi main mata dengan politik.

Dalam kasus penggerebekan dengan dalih operasi rutin atau operasi hunting di Pekanbaru, kata Reza, polisi setempat juga bisa digugat karena terindikasi berupaya mengkriminalisasi orang.

"Saya jadi ingat satu hal. Pada tahun 2020 Kapolri Idham Azis pernah keluarkan perintah kepada jajarannya agar menjaga netralitas dalam pilkada,"katanya.

Dalam Surat Perintah Kapolri tersebut berisi tujuh belas poin. Tapi sepanjang apa yang ia baca di media, belum pernah sekalipun Kapolri mengeluarkan perintah tentang netralitas Polri dalam konteks Pilpres 2024.

Oleh karena itu, kata Reza, Kapolri Listyo Sigit Prabowo perlu mengeluarkan surat perintah tentang netralitas Polri pada Pilpres 2024.

Di dalam perintah itu sepatutnya dicantumkan nomor khusus Kapolri yang berfungsi. Pertama, untuk menerima pengaduan dari personel Polri yang menerima perintah salah dari pimpinan untuk memihak secara politik.

"Yang kedua, menerima laporan masyarakat ihwal personel Polri yang menunjukkan sikap politik partisan," tegas Reza. (Antara)

REKOMENDASI

BERITA TERKAIT

News

Terkini