Mereka mengenal banyak rempah yang dimanfaatkan sebagai kebutuhan hidup, mulai dari asam kandis, bawang putih kulip, jahe, serai, kunyit, asam komang hingga damar dan kayu manis. Rempah hasil alam tersebut sering dijadikan sebagai bahan pengobatan hingga bumbu masakan.
Bahkan makanan khas suku Sakai sendiri merupakan dari hasil hutan, ubi mangalo, sejenis ubi racun yang diolah menjadi sumber makanan.
Kemudian, panganan hasil alam lain dari hutan yaitu taeh atau sejenis mangga tapi asam, lalu kedumpa atau rambutan hutan, idat, puih, pelasa, tampui, dan ada buah yang pohonnya akar, biasa masyarakat Sakai menyebutnya otol. Tumbuhan tradisional ini sebagian besar merupakan jenis rempah, ada juga yang tidak. Namun semua dapat dimanfaatkan masyarakat Sakai menjadi berguna.
Masyarakat suku Sakai dalam tradisinya hingga kini juga masih menggunakan metode pengobatan dan ramuan tradisional. Aspek-aspek alam dimanfaatkan sebagai pendukung keberadaan kelompok masyarakat ini.
Baca Juga:Pasca Gigit Seorang Polisi, Hong Kong Mulai Kurangi Populasi Babi Hutan
"Banyak sekali yang bisa kita manfaatkan dari hutan, Sakai memang identik dengan keberadaan hutan, dulu sumber kehidupan ya dari hutan dan sungai," kata Nasir.
Nasir mengaku, dalam menjaga kawasan hutan yang tersisa ini, kolaborasi berbagai elemen dan dibantu perhatian perusahaan migas untuk memberdayakan masyarakat Sakai. Banyak program yang dilimpahkan, seperti pemberdayaan petani, hingga program beasiswa dan kompetensi anak-anak Sakai.
Untuk itu juga, Nasir berharap, proses pengakuan hutan adat oleh negara dapat segera terealisasi. Sebab dengan demikian, hutan yang tersisa itu bisa tetap lestari.
Di sisi lain, tokoh Cendikiawan Sakai, Mohamad Agar Kalipke mengungkapkan, bahwa hutan merupakan apotek dan supermarket bagi suku Sakai.
"Hutan itu adalah supermarket dan apotek kita. Itu jelas dan tak perlu diterangkan lagi ya, karena dari hutan itu kita ada rempah-rempah, sayuran, umbian, rotan, palem, kluno atau ubi. Dulu kita itu tak kenal namanya beras, makanan pokoknya itu ubi," ungkapnya.
Baca Juga:Indonesia Disebut Pemilik Lahan Mangrove Terbesar Dunia, Berapa Sih Luasnya?
Berkisar 30 hingga 40 tahun ke belakang, lulusan magister sastra dan bahasa Universitas Hamburg ini mengungkapkan bahwa di hutan itu semuanya ada.